Momen pergantian tahun seringkali terjebak dalam dua kutub ekstrem, selebrasi profan yang dangkal atau kecemasan eksistensial yang melumpuhkan. Di tengah kembang api yang meledak di langit malam, terselip pertanyaan yang menghantui batin modern “Apakah esok benar-benar akan lebih baik, atau kita hanya sedang menghitung mundur menuju kehancuran yang lebih besar?” Di sinilah Teologi Harapan hadir bukan sebagai pelarian utopis, melainkan sebagai mesin penggerak sejarah.
Bukan Sekadar Optimisme

Secara teologis, harapan sering disalahpahami sebagai “optimisme”. Padahal, keduanya berbeda secara fundamental. Optimisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatunya akan membaik berdasarkan kalkulasi manusiawi atau statistik. Sebaliknya, harapan dalam tradisi teologis—khususnya yang dipopulerkan oleh Jürgen Moltmann dalam bukunya yang monumental, Theology of Hope (1964)—adalah sauh yang dilemparkan ke masa depan Tuhan.
Moltmann menegaskan bahwa iman Kristen bukanlah sekadar kepercayaan pada dogma masa lalu, melainkan antisipasi terhadap janji masa depan. Tahun Baru, dalam lensa ini, bukanlah pengulangan siklus waktu yang monoton (cylical time), melainkan gerak maju menuju penggenapan (linear-eskatologis). Harapan adalah kekuatan yang mengganggu kenyamanan status quo. Jika Tuhan menjanjikan keadilan dan perdamaian, maka ketidakadilan di tahun yang lalu tidak boleh diterima sebagai kewajaran di tahun yang baru.
Realitas Krisis dan Memori Kolektif
Secara sosiologis, kita memasuki tahun 2026 dengan beban sejarah yang berat. Dunia masih tertatih-tatih pulih dari dampak pandemi global, ketimpangan ekonomi yang semakin menganga, dan ancaman krisis iklim yang tidak lagi menjadi prediksi, melainkan realitas harian. Secara historis, pergantian tahun selalu menjadi momen “liminal”—ambang pintu di mana masyarakat mengevaluasi kegagalan kolektifnya.
Fakta aktual menunjukkan bahwa tingkat depresi dan “eco-anxiety” di kalangan anak muda mencapai titik tertinggi. Sosiolog Hartmut Rosa dalam karyanya Resonance: A Sociology of Our Relationship to the World (2019), menyebut bahwa manusia modern mengalami alienasi karena dunia bergerak terlalu cepat (acceleration). Tahun baru seringkali justru menambah beban tuntutan produktivitas (resolusi) daripada memberikan ruang bernapas.
