Teologi Harapan di Tengah Krisis Global

Momen pergantian tahun seringkali terjebak dalam dua kutub ekstrem, selebrasi profan yang dangkal atau kecemasan eksistensial yang melumpuhkan. Di tengah kembang api yang meledak di langit malam, terselip pertanyaan yang menghantui batin modern “Apakah esok benar-benar akan lebih baik, atau kita hanya sedang menghitung mundur menuju kehancuran yang lebih besar?” Di sinilah Teologi Harapan hadir bukan sebagai pelarian utopis, melainkan sebagai mesin penggerak sejarah.

Bukan Sekadar Optimisme

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Secara teologis, harapan sering disalahpahami sebagai “optimisme”. Padahal, keduanya berbeda secara fundamental. Optimisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatunya akan membaik berdasarkan kalkulasi manusiawi atau statistik. Sebaliknya, harapan dalam tradisi teologis—khususnya yang dipopulerkan oleh Jürgen Moltmann dalam bukunya yang monumental, Theology of Hope (1964)—adalah sauh yang dilemparkan ke masa depan Tuhan.

Moltmann menegaskan bahwa iman Kristen bukanlah sekadar kepercayaan pada dogma masa lalu, melainkan antisipasi terhadap janji masa depan. Tahun Baru, dalam lensa ini, bukanlah pengulangan siklus waktu yang monoton (cylical time), melainkan gerak maju menuju penggenapan (linear-eskatologis). Harapan adalah kekuatan yang mengganggu kenyamanan status quo. Jika Tuhan menjanjikan keadilan dan perdamaian, maka ketidakadilan di tahun yang lalu tidak boleh diterima sebagai kewajaran di tahun yang baru.

Realitas Krisis dan Memori Kolektif

Secara sosiologis, kita memasuki tahun 2026 dengan beban sejarah yang berat. Dunia masih tertatih-tatih pulih dari dampak pandemi global, ketimpangan ekonomi yang semakin menganga, dan ancaman krisis iklim yang tidak lagi menjadi prediksi, melainkan realitas harian. Secara historis, pergantian tahun selalu menjadi momen “liminal”—ambang pintu di mana masyarakat mengevaluasi kegagalan kolektifnya.

Fakta aktual menunjukkan bahwa tingkat depresi dan “eco-anxiety” di kalangan anak muda mencapai titik tertinggi. Sosiolog Hartmut Rosa dalam karyanya Resonance: A Sociology of Our Relationship to the World (2019), menyebut bahwa manusia modern mengalami alienasi karena dunia bergerak terlalu cepat (acceleration). Tahun baru seringkali justru menambah beban tuntutan produktivitas (resolusi) daripada memberikan ruang bernapas.

Teologi Harapan menjawab tantangan sosiologis ini dengan menawarkan “memori masa depan”. Ia mengingatkan masyarakat bahwa sejarah tidak bersifat deterministik. Kita tidak ditakdirkan untuk hancur. Harapan kolektif adalah modal sosial yang memungkinkan sebuah komunitas untuk bangkit dari reruntuhan perang atau bencana dan mulai membangun kembali.

Melampaui Nihilisme

Dalam diskursus filsafat kontemporer, kita berhadapan dengan hantu nihilisme—pandangan bahwa hidup tidak memiliki makna intrinsik dan masa depan hanyalah kekosongan. Namun, filsuf seperti Ernst Bloch—yang pemikirannya sangat memengaruhi Moltmann—dalam karyanya The Principle of Hope (1954), berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang “belum menjadi” (Not-Yet-Being).

Harapan adalah fungsi ontologis manusia. Tahun Baru adalah manifestasi dari “kesadaran antisipatoris”. Secara filosofis, resolusi tahun baru sebenarnya adalah bentuk pemberontakan manusia terhadap ketiadaan. Kita membuat rencana karena kita percaya bahwa eksistensi kita memiliki tujuan. Namun, filsafat kontemporer mengingatkan agar harapan kita tidak bersifat narsistik (hanya tentang kesuksesan pribadi), melainkan harus bersifat etis—harapan untuk “yang lain” (the other), sebagaimana ditekankan oleh Emmanuel Levinas.

Kontribusi bagi Generasi Muda

Bagi generasi muda (Gen Z dan Alpha), Teologi Harapan menawarkan kerangka kerja untuk mengubah kecemasan menjadi aksi. Generasi ini sering dijuluki “doomer generation” karena beban ekologis dan ekonomi yang mereka warisi. Namun, Teologi Harapan memberikan tiga kontribusi krusial.

Pertama, deresistensi terhadap Keputusasaan. Harapan memberikan daya tahan (resilience). Ketika dunia mengatakan “tidak ada harapan bagi planet ini,” Teologi Harapan mengatakan bahwa akhir sejarah ada di tangan Pencipta, bukan di tangan korporasi perusak lingkungan.

Kedua, aktivisme yang berakar. Harapan bukan sekadar menunggu keajaiban. Moltmann mengajarkan bahwa karena kita mengharapkan dunia baru, kita harus mulai mengerjakan prototipe dunia baru itu sekarang juga melalui keadilan sosial dan pelestarian alam.

Ketiga, identitas yang melampaui prestasi. Di era media sosial yang menuntut validasi, Teologi Harapan mengingatkan bahwa nilai seorang manusia ditentukan oleh masa depan mulia yang dijanjikan Tuhan baginya, bukan oleh pencapaiannya di tahun sebelumnya.

Menjadi “Musafir Harapan”

Sebagai penutup, merayakan Tahun Baru dengan semangat Teologi Harapan berarti berani melihat kegelapan dunia tanpa kehilangan cahaya batin. Kita tidak merayakan pergantian angka di kalender, melainkan merayakan kesempatan untuk menjadi rekan kerja Tuhan dalam memulihkan dunia.

Harapan adalah keberanian untuk menanam pohon hari ini, meskipun kita tahu besok mungkin kiamat. Seperti yang dikatakan Martin Luther, dan digemakan kembali oleh para teolog harapan: “Bahkan jika saya tahu bahwa besok dunia akan hancur, saya akan tetap menanam pohon apel saya hari ini.”

Selamat memasuki ambang waktu yang baru. Jangan hanya membawa resolusi untuk memperbaiki diri, bawalah harapan untuk memperbaiki dunia. Karena di dalam setiap detik yang baru, ada potensi ledakan rahmat yang mampu mengubah sejarah.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan