Malam harinya digelar kick off Pra-Haul yang luar biasa meriah tapi penuh hikmah. Disajikan pagelaran musik dari para santri dan pembacaan puisi. Kick off ini juga diisi orasi budaya oleh Kang Zastrouw. Sampai pelaksanaan haul pada 12 Juni 2025 nanti, di Pondok Cipasung akan disibukkan oleh berbagai kegiatan beraneka ragam.
Pada hari kedua, dengan materi penulisan cerpen dan metodologi riset, jumlah pesertanya tak berkurang. Narasumber Putu Fajar Arcana dan Dahris Siregar bahkan tak menduga peserta akan seantusias itu.

Bahkan, dalam sesi praktik penulisan, peserta tak hanya menulis menggunakan laptop atau handphone. Banyak peserta yang menulis secara manual, dengan pena dan kertas. “Ini luar biasa. Bisa jadi modal yang bagus,” ujar Dahris Siregar.

Kembali ke Galunggung
Kegiatan pelatihan kepenulisan akhirnya ditutup dengan sesi testimoni dari para peserta. Luar biasa! Itulah kesimpulan dari testimoni mereka. Mereka ingin ada lagi pelatihan lanjutan karena merasa waktunya terbatas. Meski begitu, di waktu yang terbatas, mereka mengaku bisa menyerap banyak ilmu yang sangat penting.
Bahkan, beberapa peserta mengaku pelatihan penulisan ini merupakan yang terbaik dari beberapa kegiatan sejenis yang pernah mereka ikuti. “Ini pelatihan penulisan terbaik yang pernah saya ikuti,” ujar Upy, panggilan salah seorang peserta.
Kami, terutama saya, juga merasakan hal demikian. Dari beberapa pengalaman jejaring duniasantri menyelenggarakan pelatihan kepenulisan di beberapa pesantren, di Cipasung menjadi salah satu yang terbaik, dan terbilang sangat sukses.
Malam hari, seusai penutupan, kami bersama panitia, kembali naik ke lereng Galunggung. Seusai berendam lagi, kami melakukan beberapa evaluasi minor. Memang tak ada yang sempurna, tapi kerja keras panitia layak memperoleh acungan dua jempol.
Saya, mewakili jejaring duniasantri, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kerja keras panitia hingga seluruh acara berjalan dengan sukses.
Tapi siapa nyana, semua berawal dari hal-hal yang tak masuk akal: saat “radar” Bro Chan bergetar. Namun, sesungguhnya, yang paling membuat kegiatan pelatihan kepenulisan tersebut berlangsung sukses karena ini: Keluarga Cipasung menerima kami, duniasantri, selaik keluarga sendiri.
