“Lah, tenan ta iki...” Saya dan Mahwi saling menoleh. Selain belum terbayang soal wayangan di pesantren, belum terbayang juga duitnya untuk nanggap wayang yang terbilang mahal itu dari mana.
“Nanti dananya kita cari,” kata Kang Zastrouw mencoba meyakinkan. Saya akhirnya intens berkomunikasi dengan Ki Haryo Entus, dalang wayang santri. Perlu negosiasi yang ulet terkait teknis dan biayanya. Ketika akhirnya Ki Haryo Entus bilang “Nggih, saya berangkat” pada tanggal yang disepakati, saya lega luar biasa.

Tak berhenti di situ. Rencana tumpengan dan launching buku dengan cara sederhana malah berkembang menjadi sarasehan tentang Pancasila. Dalam skenario awal, sarasehan hanya akan mengundang 1-2 narasumber dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Yang sudah pasti adalah Dr Irene Camelyn Sinaga (Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP). Rupanya, rencana ini “ketahuan” Kepala BPIP KH Yudian Wahyudi, yang lalu siap datang ke Tebuireng.
Akhirnya, yang paling banyak menyita waktu dan konsentrasi adalah bagaimana menyiapkan penyambutan seorang pejabat negara setingkat menteri, hal baru bagi jejaring duniasantri. Beruntung di sana ada Bu Irene, lalu Pak Abed, yang membuka diri 24 jam untuk komunikasi dan koordinasi.
“Kalau ada kendala, kabari saya, Pak,” pesan Bu Irene. Adem rasanya.
Tapi tentu saja situasi di lapangan yang dikomandani Mbak Rara tak seadem pesan Bu Irene. Malah penuh ketegangan disebabkan oleh dua hal.
Pertama, Kepala BPIP hanya bisa hadir di tanggal 23 Agustus. Padahal, sedari awal, rangkaian kegiatan hanya akan berlangsung tiga hari, 20-22 Agustus. Artinya, harus dirancang ulang menjadi empat hari. Ini berdampak serius bagi panitia pelaksana di lapangan.
Kedua, seluruh rangkaian acara sarasehan harus memenuhi standar protokol pejabat setingkat menteri. Karena itu, nantinya, tim Tebuireng harus bekerja ekstra keras dari pagi sampai pagi lagi agar tata panggungnya, tata kursinya, bagaimana pengaturan acaranya, dan semua detail lainnya susuai dengan standar protokoler.
Wayang Mbah Hasyim

Ketika bola salju itu mulai menggelinding dan membesar, saya justru mulai gelisah. Suara hati iya ta, iya ta… terus menghantui. Keyakinan saya bahwa seluruh rangkaian acara akan berjalan mulus, belum seratus persen.
“Ini beda, Bro. Ini Tebuireng, Bro. Taruhannya terlalu besar.”
Kegalauan dan kegelisahan itu saya tumpahkan ke Bro Daniel. Seperti krenthek hati saya, Bro Daniel menyarankan saya ke Tebuireng lagi. Benar, pertengahan Juli, untuk kedua kalinya saya ke Tebuireng. Kali ini sendirian.
Setelah sowan ke ndalem Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, malam Jumat itu saya berdiam diri di seberang pusara KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid, hingga larut. Sepulang dari Tebuireng itu, saya merasa terus dibersamai Mbah Hasyim. Sejak itu, saya yakin, insyaallah seluruh rangkaian kegiatan akan berjalan mulus.
