Terima Kasih, Tebuireng 

Dan benar saja, satu demi satu masalah teratasi, termasuk soal pendanaan dari sponsor. Dan, dua acara yang paling vital, yaitu panggung seni dan wayang santri serta sarasehan, bahkan berlangsung di atas ekspektasi.

Khusus wayang santri, ending-nya di luar dugaan. Rencananya, Surat untuk Mbah Hasyim yang ditulis Mahwi Air Tawar akan dibacakan di tengah pergantian plot. Entah kenapa, Ki Dalang Haryo Entus mengubahnya di akhir cerita. Dan ketika Mahwi selesai membacanya, tiba-tiba Ki Dalang memunculkan wayang Mbah Hasyim.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mbah Hasyim ikut hadir…,” ujar Ki Dalang. Dan, wayang Mbah Hasyim itu akhirnya dihadiahkan untuk jejaring duniasantri, yang secara simbolis diterima oleh Kang Zastrouw.

“Padahal duniasantri tak punya kantor, mau ditaruh di mana wayang Mbah Hasyim itu,” kata Mahwi setengah berbisik, setengah berdoa.

Main Gaple

KH Yudian Wahyudi berdoa di Makam Gus Dur.

Sarasehan, yang berlangsung Sabtu, 23 Agustus sebagai penutup, tak kalah wah. Kepala BPIP KH Yudian Wahyudi benar-benar hadir. Bahkan, Kiai Yudian mengawali kegiatannya di Tebuireng dengan ziarah dan tabur bunga ke makam Mbah Hasyim, KH Wahid Hasyim, Gus Dur, dan para Masyayikh Tebuireng. Sarasehan tentang Pancasila juga berlangsung gayeng. Ratusan santri masih memenuhi aula Gedung KH Yusuf Hasyim sampai sarasehan benar-benar berakhir.

Tunai sudah, seluruh rangkaian kegiatan berkat kekompakan dan kerja keras tim Tebuireng. Teman-teman jejaring duniasantri sudah mulai meninggalkan Tebuireng, kecuali saya. Saya ingin menunggu sampai piring-piring usai pesta dicuci bersih.

Di sela-sela panitia beres-beres itulah, Mbak Rara membisiki saya. “Pak, di Wonosalam udaranya sejuk dan banyak durian.” Iming-iming itu membuat saya manut. Minggu sore, saya ikut tim Mbak Rara naik ke Wonosalam. Mereka adalah Mas Bagus, Mbak Albi, Mbak Ifa, dan Mbak Elvi.

Tapi saat tiba di Wonosalam, durian-durian itu bak raib di telan bumi. Kami hanya disambut keheningan dan udara dingin. Kami akhirnya meriung di sebuah kafe angkringan di pinggir kali.

Entah kebetulan atau memang telah dirancang, sembari menunggu hidangan, tim Mbak Rara ini mengeluarkan kartu domino. Dan kami pun bermain gaple. Ditingkah gemericik air kali, ketepak-ketepok suara kartu yang berjatuhan terasa seperti kami sedang melempar ketegangan, juga kelelahan. Di antara lemparan-lemparan kartu itu, kami saling melempar ledekan, candaan, juga derai tawa. Wajah-wajah kami, yang tegang dan kusut selama empat hari, kini menjadi sesegar udara Wonosalam.

Entah disengaja atau tidak. Mungkin itulah salah satu cara Tebuireng membuat setiap tamu tersenyum. Pulang membawa senyum, seperti ketika datang. Bahkan keesokan harinya, setelah jauh meninggalkan Tebuireng dengan kereta, saya masih menerima pesan pendek dari tim Mbak Rara: main gaple itu ternyata direkam, yang videonya saya tonton sambil tersenyum sepanjang perjalanan pulang.

Beribu ucapan terima kasih rasanya tak cukup bisa mewakili perasaan kami terhadap apa yang telah disuguhkan Tebuireng…

Tinggalkan Balasan