Teror Srikandi

Dan sekali lagi Cindy memperhatikan wanita yang ada di bawah pohon beringin itu. “Ahh, tidak salah lagi itu dia Srikandi,” ucapnya sekali lagi membatin membenarkan dugaannya. “Tapi… tapi apakah dia menggenggam sebuah belati? Icha bilang Srikandi selalu menggenggam belati ketika meneror seseorang. Dan apakah kini Srikandi sedang menerorku?” Cindy bergidik ngeri merasakan hati dan pikirannya sedang berargumen. Dia merasa tidak akan sanggup menghadapi kenyataan ini bahwa sekarang dia harus berhadapan dengan Srikandi. Wanita yang bahkan tidak pernah dipercayainya ada itu kini berada di sekitar rumahnya.

Cindy bermaksud ingin memastikan sekali lagi kalau wanita itu benar-benar Srikandi yang telah bangkit dan ingin meneror hidupnya. Dan betapa terkejutnya lagi dia ketika tak mendapati seorang pun berada di bawah pohon beringin itu. “Apakah dia sudah pergi?” pikirnya kemudian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tiba-tiba, dari belakang punggungnya, seseorang menarik tangannya kasar dan menggoreskan sesuatu tepat pada urat nadinya. Cindy memekik tanpa suara. “Apa yang terjadi padaku? Ke mana suaraku pergi? Seseorang tolong aku!” teriaknya dalam hati ketika mendapati Srikandi yang telah menggores tangannya dengan menggunakan belati yang tadi ingin dipastikannya berada dalam genggaman wanita legenda itu.

Konon, dengan belati itulah Srikandi telah disiksa oleh Warsito. Tidak sekadar goresan yang diberikan Warsito kepada Srikandi, namun benar-benar siksaan. Pelan namun begitu menyakitkan. Warsito memang memupuk dendam sejak lamarannya ditolak oleh Srikandi, dan siksaan untuk menghancurkan kecantikan Srikandi dia lakukan sendiri dengan tangannya sendiri menggunakan sebuah belati. Belati yang semula sangat tajam itu sampai tumpul karena terlalu sering digunakan untuk menggores atau mencongkel sesuatu dalam tubuh Srikandi, dan sampai akhir hayat Srikandi, belati itu tidak pernah diasah oleh Warsito. Warsito memang sengaja membiarkan belati itu tumpul, karena akan menambah sakitnya goresan yang dirasakan Srikandi.

Srikandi benar-benar muncul di depan mata Cindy. Wanita setan itu sangat mengerikan. Rambutya yang tadi terlihat rapi disanggul, kini berantakan dan terlihat ada bekas irisan di semua sisi. Juga puncak kepalanya yang berlubang, membuat darah segar bercecer mengalir ke wajahnya. Wajahnya yang konon sangat cantik itu, sekarang bukan tampak seperti wajah. Bola matanya keluar ke samping kiri dan kanan, hidungnya hanya tinggal separo, dan di bagian alisnya ada bekas sayatan hingga nampak tulang kepalanya. Pipinya juga penuh goresan yang nampak menyakitkan dan tentu saja membuat Cindy ketakutan menatap wanita setan itu.

“Apa? Apa yang dia lakukan di depanku?” tanya Cindy lagi dalam hatinya yang mulai setengah mati berdiri di ambang jendela kamarnya. Cengkeraman itu begitu menyakitkan, membuat darahnya seakan diperas dari goresan belati tumpul itu tadi. Cindy ingin sekali membuka mulutnya dan berteriak minta tolong, namun hanya angin yang dihasilkan dari dalam mulutnya itu.

Sementara Srikandi terus saja membuatnya ketakutan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Cindy mulai mengumpulkan sisa keberaniannya, dia bersiap menarik tangannya dan happ.. mendorong tubuh Srikandi hingga terjungkal jauh di depannya. Sesegera mungkin Cindy mencoba berlari menjauh dari Srikandi, namun entah apa yang membuat kakinya terasa lengket menyatu dengan lantai kamarnya. Cindy tidak bisa bergerak. Dan apa yang dilihatnya ini, malah Srikandi yang bergerak duluan mendekati Cindy lagi.

“Apakah? Apakah Srikandi itu ternyata tidak punya kaki? Dan ke mana kaki kanannya? Kenapa kaki kirinya hanya separo saja?”

Sementara Cindy sibuk dengan berbagai pertanyaan yang hinggap di kepalanya itu, Srikandi bergerak merangkak dengan tangannya yang terbaik, kakinya memang hanya separo, dan itu adalah kaki kiri, bahkan kaki kanannya sudah tidak ada lagi bersama tubuh wanita setan yang malang itu.

Srikandi sudah memegang kaki Cindy, dan dengan sekuat tenaga, Cindy berteriak sekeras mungkin ketika tiba-tiba dia terbangun dan mendapati neneknya berada di sampingnya. Seketika itu, Cindy memeluk neneknya. Menghela napas lega karena teror itu hanya mimpi. Dia masih baik-baik saja, tidak ada goresan dan juga darah yang mengucur lewat urat nadinya. Dan Cindy masih berada di atas ranjang seperti saat terakhir kali dia memulai tidurnya.

Cindy merasakan neneknya begitu kuat memeluknya, seakan ingin meremukkan semua tulang yang ada dalam tubuh Cindy.

“Nenek… apa yang terjadi?” tanya Cindy kepada neneknya, namun lagi-lagi suaranya hilang ditelan angin. Semua pertanyaan itu hanya ada dalam pikirannya, tanpa pernah didengar oleh neneknya.

Lalu tiba-tiba, suara tawa itu menggema dari mulut neneknya yang kini tengah dipeluknya dengan begitu erat. Bukan suara tawa neneknya yang renta itu, melainkan tawa dendam seorang wanita setan yang tadi ada dalam mimpinya. Cindy langsung saja mengalihkan pandangannya kepada punggung wanita itu, dan melihat kebaya warna merah yang khas itu berlumur darah.

“Srikandi tidak akan main-main meneror siapa pun yang tidak mempercayai keberadaannya.”

Ucapan itu menusuk gendang telinga Cindy sampai berdengung dan mengucur darah segar dari dalamnya.

Untuk kesekian kalinya, Cindy berteriak sekuat tenaganya. Mengumpulkan kembali kesadarannya untuk kemudian lari dari wanita setan itu. Ke mana neneknya? Apakah Srikandi juga meneror neneknya? Pertanyaan itu menyeruak memenuhi pikirannya.

***

“Cin, Cindy, bangun!” ucap Icha berteriak di telinga Cindy sambil menggoyangkan tubuh Cindy dengan begitu keras. Temannya itu sudah berteriak-teriak sejak satu jam yang lalu. Karena begitu panik, neneknya memanggil Icha untuk membangunkan Cindy. Karena setahu nenek Cindy, hanya Icha teman dekat Cindy yang ada di desa ini. Icha juga sering datang ke rumah jika sedang mengerjakan tugas kelompok atau sekadar bermain di waktu senggang. Nenek Cindy begitu panik melihat keadaan cucunya itu.

Tinggalkan Balasan