AGUS TARJONO alias Lebe Penyair adalah penyair asal Brebes, Jawa Tengah. Sebagai penyair ia tergolong serius dalam pengertian tidak sekadar menulis, namun selalu mengawali laku berpuisinya dengan berbagai ritual yang terhubung dengan tradisi di kampungnya.

Ia mengaku keturunan dukun, namun besar dalam atmosfir NU baik saat di pesantren, kampus, maupun organisasi. Ia selalu menyebut dirinya Lebe Penyair, dan menyembunyikan nama aslinya. Pekerjaannya memang lebe (naib).

Sampai buku puisinya terbit, ia sudah memulasara dan menalkinkan 500 jenazah serta menikahkan sekitar 150 pasangan, yang sebagian besar di antaranya janda dan duda.
Salah satu keseriusannya dalam berpuisi, ia menganggap pentingnya sanad kepenyairan yang terhubung dengan guru, senior, atau leluhur seperti dalam tradisi pesantren. Dalam kaitan dengan sanad, konon pada 27 Juni 2005 ia mendapat ijazah pentasbihan langsung dari WS Rendra di Depok.

Beberapa waktu sebelumnya ia juga sowan ke rumah saya di Cipasung, mengutarakan tekadnya akan menapaki jalan puisi. Saya sempat kebingungan waktu itu karena belum mengenalnya sama sekali. Ia datang dengan memakai baju seragam cokelat pegawai negeri dan langsung pulang setelah mendapat tanda tangan pembaptisan dari saya.
Tahun 2025 ini, setelah 20 tahun mendapat ijazah, Lebe Penyair menerbitkan kumpulan puisi pertama berjudul Zombi Sajak Pantura, berisi 40-an puisi yang diperas dari proses panjang ritualnya selama 27 tahun kepenyairan.
Puisinya unik, tidak seperti puisi pada umumnya. Darah dukun dalam dirinya mengalir kuat hingga puisinya seperti mantra, jampi, atau wirid, yang secara empirik sering dibacakan pada saat penguburan jenazah atau akad pernikahan.
Tentang keunikannya ini, mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqiel Siradj, yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon, menulis: “Karena hanya Lebe Penyair yang eksis, rajin membaca, gemar berkreasi serta alami makrifat puisi, maka layak didapuk sebagai Wali Sastra NU. Kepahitan hidup didesain menjadi daya ledak yang terpancar pada puisi-puisinya yang menggugah dan berkelas.” Oh iya, Lebe Penyair adalah alumnus kelas karyawan Fakultas Hukum UNU Cirebon.
Bagi Lebe Penyair, ritual bukan hanya dalam menulis puisi, namun juga saat membacakannya di panggung. Penampilannya khusyuk, gestur tubuhnya solid, perpaduan antara gerakan silat, perdukunan, serta tirakat seorang salik. Selain itu, bisa jadi vokal maupun tubuhnya dikendalikan khodam yang selalu menyertainya.
Untuk hal ini, Bupati Brebes, Hj. Paramitha Widya Kusuma, berkomentar: “Saat di Hotel Grand Dian Brebes, aku baru percaya pada keunikan Sang Lebe Penyair sebagai seniman garda terdepan di Kabupaten Brebes. Sebab, keunikan teatrikal deklamasinya gila, baik cara bacanya maupun totalitas dalam mendalami paradigma puisi.”
Lebe memang dekat dengan para pejabat lokal. Di awal kepenyairannya, Lebe sempat melakukan performance yang sensasional, yakni membaca puisi sambil berjalan kaki dari Brebes ke Tegal tanpa henti. Aksi ini secara resmi dilepas oleh bupati dan ketua DPRD dari halaman pendopo kabupaten.
Pada 28 April 2025 siang, tiba-tiba Lebe datang ke Tasikmalaya untuk menyerahkan buku perdananya kepada saya. Ia sengaja tidak mengirimkan lewat pos atau paket, tapi ingin menyerahkan langsung dalam sebuah ritual khusus. Kami bertemu di markas Komunitas Cermin.
Setelah melakukan ritual penyerahan buku, lalu secara spontan AshmansyahTimutiah mengusulkan momen tersebut dijadikan peringatan Hari Puisi Nasional yang jatuh pada tanggal yang sama. Ashman langsung mengumpulkan sekitar 50 siswa SMA yang kebetulan sedang berlatih untuk sebuah pementasan. Lalu kami berkumpul.
Setelah sambutan dari Ashman sebagai tuan rumah, saya sedikit orasi tentang sastra dan mistik. Puncaknya, Lebe tampil membacakan karyanya secara total (sambil guling-guling di lantai yang menjadi ciri khasnya) dan dipungkas dengan diskusi hangat penuh canda tawa hingga menjelang magrib.
Penampilan Lebe Penyair yang sering menyebut dirinya sebagai The Great of Pantura memang dahsyat. Ada unsur seriusnya meski banyak lucunya, namun aura mistiknya tetap terasa lebih dominan.
Sebelum acara Peringatan Hari Puisi Nasional yang dadakan itu, Lebe berkali-kali mengontak Sahaya Santayana untuk diminta menjadi MC namun tidak menyahut. Mungkin sedang sibuk on the road menuju kolam pemancingan ikan.
***
Rupanya, Agus Tarjono alias Lebe Penyair cukup populer di daerahnya, Brebes. Bahkan juga dikenal luas di wilayah Pantura, mulai dari Cirebon, Tegal, hingga Pekalongan.
Dalam kumpulan puisi perdananya yang berjudul unik Zombi Sajak Pantura ini, tak kurang dari lima tokoh, baik tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pendidikan, dan bupati memberikan testimoni yang positif untuk Lebe Penyair.
Selain yang sudah dikutip di atas, ada testimoni dari tokoh budaya Brebes, yakni Atmo Tan Sidik yang cukup menarik untuk disimak: “Setulusnya akulah yang menemukan dan menjulukinya sebagai Lebe Penyair. Sebab aku sudah mengenalnya sejak lama, yakni sejak bertemu di rumah dinas Bupati Safrul Supardi yang sekarang menjadi Hotel Kencana, lalu kembali bertemu lagi tahun 2002 ketika ia mengunjungi sastrawan legendaris Piek Ardiyanto Supriadi. Aku kaget penyair yang sekarang sudah menyandang gelar sarjana hukum ini, saat itu menangis sesenggukan layaknya anak kecil di depan idolanya. Dari situ aku menangkap dan memahami bahwa ada kegilaan ekspresif serta ada totalitas berpuisi dalam dirinya,” tulisnya.
Saya pertama bertemu dengan Lebe Penyair tahun 2005 saat ia tiba-tiba mengunjungi rumah saya untuk meminta ijazah kepenyairan. Saya juga merasa aneh waktu itu. Lalu pertemuan kedua terjadi di Tegal sekitar tahun 2007, saat saya diundang budayawan Nurhidayat Posso untuk mengisi sebuah acara sastra di kampungnya.
Ketika saya lagi santai minum kopi di rumah Nurhidayat pada sore hari, tiba-tiba ada tamu yang ingin bertemu dengan saya. Ia berdiri mematung di depan pintu. Dan, ketika saya mendekatinya, tiba-tiba ia merubuhkan diri dan bersujud sambil menangis sesenggukan. Saya bukan hanya merasa aneh, tapi sangat kaget dengan peristiwa itu. Dan, seperti halnya Atmo Tan Sidik, saya akhirnya paham bahwa penyair yang satu ini mempunyai kepekaan serta penghayatan di atas rata-rata. Ia gampang terharu dan keterharuannya tersebut diekspresikan dengan cara menangis. Belakangan setiap saya menyaksikan penampilannya di panggung, tak jarang ia juga meneteskan air mata di tengah aksi teatrikalnya yang unik dan sufistik.
Kumpulan puisi perdananya tidak kalah unik dan sufistik. Selain judul yang lain daripada yang lain, ilustrasi sampulnya juga fenomenal, berupa potret Lebe Penyair sendiri yang sedang berdiri gagah sambil merentangkan kedua tangannya di atas panggung. Lebe yang mengenakan peci tinggi dan jubah putih mengusik ingatan serta imajinasi saya pada sosok Jalaluddin Rumi yang sedang menari-nari di tengah majlis tarekatnya.
Kandungan puisi dalam kumpulan ini tidak banyak, namun halaman-halaman awal bukunya banyak dihiasi dengan sejumlah foto diri, salah satunya foto bersama saya waktu bertemu di Cirebon belasan tahun sebelumnya.
Lalu di bagian akhir pengantar ia menulis: “Mematangkan diri diiringi kiprah membawa nama Kabupaten Brebes terus diejawantahkan dengan tentukan pilihan deklamasi yang langsung disauk pada sosok panutan Rendra, sedangkan pilihan penulisan disauk pada sosok panutan Acep Zamzam Noor. Alhamdulillah seleksi sosial yang kualami tak kurang dari 27 tahun telah membuahkan serangkum muatan puisi di media massa. Datanya terefleksi dalam antologi tunggal ini.”
Puisi pertama dalam kumpulan ini berjudul “Bersatulah Perempuan-perempuan Penyair Brebes” yang mengingatkan saya pada judul salah satu puisi Rendra ini menyebut tak kurang dari sebelas nama perempuan, yakni Rizka Nurhidayah, Dita Fidyaning, Wiwit Widyarini, Drianah, Siti Maria, Sri Mulatsih, Elfi Sri Wulandari, Dwi Prasuciarti, Siti Wasalamah, Sis Triwanti, dan Zara Zitira. Puisi ini dipungkas dengan semacam pesan yang juga unik: “Kalian teruslah berpuisi hingga sisihkan penyair kampiun, kecuali Lebe Penyair,” tulisnya.
Puisi kedua berjudul “Tidak Main-main” cukup menarik bagi saya. Puisi ini ditulis tahun 2005 di masa awal kepenyairannya. Puisinya pendek, singkat, dan padat namun seperti gema yang meletup dari kedalaman dada yang kemudian menjadi tenaga bagi perjalanan kepenyairan selanjutnya. Bisa jadi puisi ini semacam kredo bagi dirinya sendiri bahwa ia tidak main-main dengan puisi. Puisi tersebut saya kutip seutuhnya:
Telah kutalak tiga tiap picisan
dalam kata
Kini malah tergila-gila
Dengan darah acuan karya
Membatu!
Puisi seharga hidupku
Kenapa saya mengatakan puisi di atas seperti meletup dari kedalaman dada, salah satunya karena saya merasa kata-kata yang tertulis itu keluar secara spontan dan ekspresif tanpa direncanakan, tanpa direkayasa atau dipoles-poles, tepatnya seperti mantra bagi seorang dukun. Bisa saja substansi dari ungkapan yang meletup spontan tersebut sudah mengendap lama dalam pikiran maupun perasaan, dan pada saat kematangannya tiba kata-kata tersebut langsung meletup ke luar.
Atmosfir mantra atau wirid semacam puisi di atas terasa hampir pada sebagaian besar puisinya dalam kumpulan ini, termasuk puisi-puisinya yang relatif panjang. Meskipun berbait-bait panjang, namun tetap diksi-diksi yang dipilihnya spontan, lugas, mengarah, dan sering di luar dugaan pembaca.
Puisi ketiga yang juga ditulis tahun 2005 masih berbicara mengenai puisi dan kepenyairan, masih dengan kespontanan yang ekspresif, namun kali ini memuat kandungan makna yang lebih kontemplatif layaknya hizib. Menurut sebagian orang, hizib dapat mensugesti siapa saja yang membaca atau mendengar hingga menggigil bahkan bisa sampai kesurupan.
Dalam berpuisi, Lebe Penyair memang termasuk yang kurang suka berindah-indah mengolah atau menghiasi bahasa dengan asesoris, meskipun demikian diksi-diksi yang meletup secara spontan dari tangan atau mulutnya seakan mengandung tenaga dalam kata-kata. Mengandung wirid, hizib, dan tentu saja sugesti. Lebe sangat percaya dan yakin dengan kekuatan serta keajaiban kata-kata, terutama pada kata-katanya sendiri.
Sebagai gambaran dari kespontanan tersebut, saya kutip puisi ketiga yang berjudul “Sinkronisitas” ini:
Tangan mengepal yang tidak kaugenggam
Kaki melangkah yang tidak kauinjak
Mata menatap yang tidak kaulihat
Hati ridho yang tidak kaurelakan
Bismillah, Insya Alloh
Tuhan menjaga lisan ini
Biquwwatillah, Alloh Akbar
Tuhan menuntun awak ini
Binashrillah, Alhamdulillah
Tuhan mudahkan jalan ini
Aku kini puisi!
Puisi-puisi Lebe Penyair tidak hanya fokus pada dunia kepenyairan serta hal-hal yang bersifat spiritual. Dalam sebagian puisinya, ia juga menyoroti kehidupan sosial kemasyarakatan hingga politik, di samping pandangannya perihal dunia global.
Yang menarik, pada sejumlah tema yang disasarnya selalu saja yang muncul adalah ungkapan-ungkapan spontan yang berkarakter lisan tanpa meninggalkan gaya repetisi kesukaannya. Konon penyair unik ini hafal di luar kepala seluruh puisi ciptaannya hingga jika tampil di atas pentas ia tidak pernah memegang teks. Dengan demikian tubuhnya menjadi lebih bebas bergerak, leluasa untuk merentangkan tangan, mengayunkan kaki, berguling-guling di atas lantai atau memanjat tiang atau podium. Dengan demikian, tubuhnya kemudian menjelma sebagai bahasa tersendiri dan memperkaya larik-larik puisi yang dibawakannya.
Sebuah puisinya yang menyoroti masalah sosial dalam konteks kehidupan sehari-hari berjudul “1000:100:1” menurut saya cukup berhasil dan menggugah. Ungkapannya sederhana, sedikit nyeleneh, namun punya kedalaman renungan dari sudut pandang seorang lebe, seorang naib, yang menghayati betul profesinya dalam hal menikahkan pasangan pengantin serta memulasara jenazah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes. Saya kutip utuh puisi tersebut di sini:
Tiap seribu tokoh masyarakat
Ada seratus orang yang memenuhi syarat di tengah umat
Tetapi hanya satu orang: diplomat
Yang hebat
Tiap seribu organisasi profesi
Ada seratus orang yang alami, sekarang ini
Tetapi hanya satu orang: creative minority
Yang berani
Tiap seribu peneliti
Ada seratus orang yang menolak basi
Tetapi hanya satu orang: cendekiawan
Yang menawan
Tiap seribu pencari rezeki
Ada seratus orang yang bersaing pasang aksi
Tetapi hanya satu orang: di jalan Illahi
Yang murni
Tiap seribu ahli bahasa
Ada seratus orang yang tangguh menatar diri
Tetapi hanya satu orang: seniman puisi
Yang luar biasa
Lebe Penyair memang tokoh fenomenal untuk wilayah Pantura. Makanya, tanpa segan-segan ia mendeklarasikan dirinya sebagai The Great of Pantura, mengikuti Sutardji Calzoum Bachri yang mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Penyair Indonesia pada dekade 1970-an. Dalam struktur kekuasaan, jika Sutardji adalah presiden yang membawahi provinsi-provinsi, maka Lebe Penyair levelnya setingkat residen yang membawahi beberapa kabupaten dalam satu wilayah. Sebuah kedudukan yang cukup bergengsi, jauh lebih tinggi dibanding para bupati apalagi camat, tentunya.
Tahun 2024 menjelang terbitnya kumpulan puisi Zombi Sajak Pantura ini, Lebe menulis sebuah puisi yang menggambarkan perjalanan panjang kepenyairannya selama ini. Sebuah refleksi terhadap posisi kesusastraan sekaligus gambaran ketabahan para salik yang menjadi pengikutnya menghadapi segala badai bencana kehidupan nyata di negara dunia ketiga.
Puisi tersebut berjudul “Sastrawan”. Cukup menarik untuk disimak sebagai penutup dari catatan apresiasi ini:
Selalu mimpi dan realitas berhimpit hingga renta
Aku menderita kepenyairan 27 tahun nyata
Sajak terus jadi aliran darah dalam diri
Tanpa ragu tanpa jeda tanpa sadar
Rasai dekapan Tuhan berbinar-binar
Ada haqul yakin tiap jengkal tanah
Wajib diri deklamasi membuat sejarah
Awal-akhir tahun torehkan prasasti
Nanti kalian pasti berstatus: saksi!
Saya mengucapkan selamat membaca bagi mereka yang sudah memiliki buku yang luar biasa ini. Tak lupa, selamat juga bagi Agus Tarjono alias Lebe Penyair atas terbitnya Zombi Sajak Pantura yang merupakan kumpulan puisinya yang perdana. Maju terus ke depan. Allohu Akbar.
