Fenomena semacam ini setidaknya dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu, pertama, pendewaan agama. Manusia sering terjangkit virus untuk mendewakan agama, istilah-istilah yang diadopsi dari agama dan pemeluk agama. Menarik sebenarnya melihat agama yang hanya menjadi jargon-jargon pihak tertentu, cara beragama yang kaku, dan melupakan agama sebagai amalan dan ajaran yang ramah. Sehingga timbul sarkasme dari pandangan yang salah tersebut. Yang dalam bahasa Najib disebut bahwa agama berfungsi sebagai markas mafia teroris, jaringan radikalis, dan memuculkan manipulasi agama.
Kedua, pengkelasan dalam berakhlak. Akhir-akhir ini, atau mungkin memang sejak dahulu, umat beragama sering terjebak pada in group feeling, apatis terhadap kelompok yang tidak dekat dengan dirinya. Akibat dari pemahaman seperti inilah bisa menimbulkan penilaian yang tidak objektif dalam memandang apa pun yang di luar kita. Padahal kita tahu, bahwa masyarakat atau individu memiliki identitas ganda, lebih-lebih di Indonesia. Dia bukan hanya umat beragama, tetapi juga warga negara dan mempunyai afiliasi dengan medium-medium lain.

Ketiga, monopoli kebenaran. Kadang-kadang doktrin tunggal atas kebenaran agama perlu, dan itu hanya dilakukan di lingkaran pemeluknya. Karena bagaimanapun, sebagai umat beragama kita mempunyai kewajiban mengamini terhadap kebenaran agama yang kita peluk. Tapi, pada kenyataannya, hal tersebut menyerempet pada doktrin agama lain. Seperti yang saya katakan di atas, bahwa masyarakat yang berada di luar kelompok agama kita disepelekan, dianggap sebagai orang yang membahayakan dan jika perlu harus dihabisi secara besar-besaran.
