Di sela obrolan tentang sejarah Ritual Adat Ulur-ulur, serta mitos-mitos yang melekat padanya, Mbah Upam, entah secara sengaja atau tidak, menyelipkan pengetahuan yang baru bagi saya. Dia berbicara tentang lapis ilmu dalam pandangan orang Jawa. Ia berkata bahwa ada tiga lapisan dalam segumpal ilmu. Lapis pertama disebut kawruh, lapis kedua adalah elmu, dan lapis ketiga adalah roso.
“Manungso kui, kudu nduwe telu, kawruh, elmu, roso. Lek dijupuk siji-siji, ibarat woh-wohan, yo ora jangkep, ora lengkap.”

Manusia itu [dalam mencari dan memahami ilmu harus menempuh tiga hal, yaitu kawruh, elmu, dan roso. Apabila hanya punya satu di antaranya, ibarat buah, tidak lengkap, tidak baik.
Menurut Mbah Upam, kawruh merupakan lapis terluar dari padatnya ilmu. Bila diibaratkan buah, kawruh adalah kulitnya. Manusia yang berilmu, yang hanya sampai pada tataran kulit, akan cenderung sombong. Kawruh yang ia miliki hanya mendorong pemiliknya untuk pongah. Mbah Upam mengibaratkan bahwa tataran kawruh seperti padi tanpa isi.
Lapis kedua adalah elmu. Dengan pengandaian yang sama, elmu berarti daging buahnya. Daging buah adalah bagian yang cukup signifikan dalam ilmu. Ia adalah isi dari pengetahuan. Isi kepala berupa jutaan data yang kita serap dari kehidupan dan buku tebal yang kita sempat baca.
Namun tentu saja tanpa kulit, tanpa kawruh, ilmu juga kurang sempurna. Ia akan mudah menjadi kotor. Hubungan antara kawruh dan elmu cukup variatif, bisa dikotomis atas-bawah, atau bersifat komplementer. Bersifat komplementer saat satu sama lain saling melengkapi. Misalnya, kulit tidak akan berharga bila tidak ada isi, dan isi tidak akan sempurna tanpa kulit.
