Lapis ketiga dan sekaligus tingkat terakhir dari ilmu adalah roso. Ibarat buah, roso adalah rasa yang hanya bisa dicecap dengan merasakannya. Dalam konteks perpsektif Jawa, merasakan ini hanya bisa ditempuh dengan laku yang bisa dimaknai dengan menjalani, mengalami, atau mencelupkan diri dalam ilmu tersebut. Dengan begitu, manfaat dari ilmu akan bisa dirasakan. Roso adalah tahap memeras ilmu hingga menetes sari-sari faedahnya. Jadi, betapapun banyak ilmu yang kita ketahui, bila kita tidak menempuh laku, kita tidak akan bisa mencapai tingkat roso. Atau sederhananya, tidak akan bisa mendapat manfaatnya. If we do not do what we know, so there is no use of our knowledge.
Hal ini, (walaupun mungkin sedikit terkesan memaksakan) sepertinya mirip dengan konsep pembelajaran modern, yang biasa disebut knowing, doing, and being. Knowing adalah pembelajaran tahap pertama, saat kita mengetahui sesuatu yang baru. Ini adalah proses perkenalan seseorang dengan ilmu. Bila disejajarkan dengan pembahasan sebelumnya, knowing berarti kulit atau kawruh.

Tahap doing adalah tahap seseorang mulai mengerjakan apa yang dia ketahui. Namun, mereka sekadar mengerjakan saja, dan belum bisa merasakan apa yang dilakukannya. Nah, bila dibandingkan dengan pembahasan lapis ilmu tadi, doing bisa berpijak pada domain elmu dan roso. Elmu karena ia berupa isi, dan dan roso karena ia sudah melangkah pada tingkat aplikasi. Namun, berbeda dengan roso di mana ilmu sudah menjadi bagian hidup dari seseorang, doing nampaknya masih belum pada tataran tersebut. Barulah ketika sudah mencapai being (menjadi), level ini bisa disetarakan dengan roso itu sendiri. Karena pada hakikatnya, ilmu itu tidak hanya teori untuk diaplikasikan, tetapi dirasakan dan membentuk manusia menjadi lebih manusiawi.
***
Pukul setengah dua belas malam, saya pamit undur diri dari rumah Mbah Upam. Kopi yang tadi disajikan sudah tandas kami seruput. Entah berapa kuota penyimpanan di handphone yang terisi suara beliau. Wawancara ini, sebagaimana wawancara sebelumnya, memberikan hal baru yang semakin membuatku merasa kerdil di hadapan luas dan lebatnya rimba ilmu yang masih belum tergali ini.
