Dok pribadi

Tiga Pilar Lirboyo

Usai menyelesaikan pembelajaran di Babadan, mereka pun pindah ke serbuah pesantren di Cempoko, 20 km sebelah Selatan Nganjuk. Di pesantren ini mereka belajar selama enam tahun. Kemudian pindah ke pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono untuk memperdalam al-Quran dengan baik. Tidak hanya sampai di situ, Abdul Karim meneruskan perjalanan menuntut ilmu di sebuah pesantren di Sono, Sidoarjo, selama hampir tujuh tahun. Kemudian dilanjutkan belajar di pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya.

Kiai Abdul Karim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madura untuk memenuhi keinginannya menjadi murid Kiai Kholil Bangkalan. Beliau belajar pada Kiai Kholil selama dua puluh tiga tahun lamanya. Kepulangannya dari Bangkalan adalah perintah dari sang kiai, sebab dirasa sudah cukup.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Beliau pun kembali ke Jawa dan mendapati sahabatnya kala mondok di Madura, yakni KH Hasyim Asy’ari, telah membina sebuah pesantren di Tebuireng, Jombang. Beliau pun nyantri di sana selama kurang lebih lima tahun. Dari Tebuireng inilah beliau kemudian dijodohkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan salah seorang putri kerabatnya, Kiai Sholeh dari Banjarmlati, Kediri, bernama Nyai Khodijah (Nyai Dlomroh).

KH Marzuqi Dahlan

KH Marzuqi Dahlan adalah cucu dari Kiai Sholeh Banjarmlati. Lahir dari pasangan Kiai Dahlan (putra Kiai Sholeh, Bogor) dan Nyai Artimah (putri Kiai Sholeh, Banjarmlati). Menginjak usia belajar, ia dipindahkan ke Jampes, terletak sekitar 5 km dari Kota Kediri, atas permintaan ayahnya. Namun, setelah menginjak remaja, ia oleh kakeknya dikirim ke Pesantren Lirboyo dan berguru kepada pamannya, Kiai Abdul Karim. Hal ini tidak berlangsung lama, sebab ia kembali pindah ke Jampes lagi sebelum akhirnya memutuskan nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang lalu pindah ke Jampes sekali lagi.

Kiai Marzuki Dahlan dikenal piawai dalam ilmu tasawuf. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang zuhud dan memiliki tingkat taqarrub yang tinggi kepada Allah. Beliau memberikan contoh pola hidup sederhana dan jauh dari kemewahan. Pituturnya begitu lembut terhadap siapa saja. Keilmuannya mencapai derajat makrifat atau kesunyatan. Hal ini pernah dirasakan oleh KH Ghozali, Nganjuk, ketika masih menjadi santri beliau.

Beliau wafat pada usia 70 tahun setelah sakit dan mendapatkan perawatan intensif. Sebelum wafat, ada tiga nasihat yang beliau wasiatkan kepada keluarga, pengurus, dewan guru dan seluruh santri agar tetap dijunjung tinggi dan diugemi. Pertama, santri haruslah mematuhi semua tata tertib dan peraturan pondok pesantren. Kedua, santri harus tekun belajar dan mempertinggi himmah untuk menghidupkan budaya belajar ala pondok pesantren. Ketiga, santri hendaklah tidak mengubah keikhlasan niat menuntut ilmu, bimbang, atau bahkan berbelok keduniawian ketika mengalami musibah.

KH Mahrus Aly

Tinggalkan Balasan