Suasana santri menyimak penjelasan KH. Zaimuddin Wijaya As'ad

Tiga Ujian Santri Baru

Kiai Zuem juga memberikan penekanan penting terkait perlunya menciptakan lingkungan pesantren yang aman, damai, dan bebas dari tindakan perundungan (bullying). Diingatkan bahwa tidak ada tempat bagi kekerasan, ejekan, maupun tindakan yang merendahkan sesama santri di pesantren.

Ujian ketiga yang kerap dialami para santri adalah persoalan barang pribadi yang sering tertukar. Dalam kehidupan pesantren, di mana dalam satu kamar dapat terdiri dari 10-20 orang, tentu kesamaan jenis barang seperti sandal, pakaian, alat mandi, dan perlengkapan lainnya sering menimbulkan kebingungan. Hal ini menuntut para santri untuk lebih teliti, bertanggung jawab atas barang milik sendiri, dan kejujuran apabila menemukan atau tidak sengaja mengambil barang milik orang lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Untuk menghindari hal tersebut, Kiai Zuem memberikan tips praktis yang sederhana namun sangat bermanfaat, yaitu dengan memberi nama pada setiap barang pribadi. Tidak hanya nama, santri juga disarankan menambahkan singkatan nama kota asal agar lebih mudah dikenali. Misal, namanya Fahri dari Lamongan, ditulis di sarungnya “Fahri LMG”. Jika ada dari Surabaya namanya Ahmad, ditulis “Ahmad SBY”.

Dengan cara tersebut, para santri dapat lebih mudah mengenali barang milik sendiri dan menghindari tertukar dengan teman lain. Selain itu, ini juga menjadi bentuk tanggung jawab atas kepemilikan pribadi dan melatih kemandirian sejak dini.

Sebelum menutup wejangannya, Kiai Zuem menegaskan bahwa tujuan utama nyantri adalah untuk menghilangkan kebodohan, menuntut ilmu demi kemuliaan dunia dan akhirat.

Wejangan tersebut disambut dengan khidmat dan semangat baru oleh para santri, khususnya yang baru pertama kali merasakan kehidupan pondok. Wejangan dari Kiai Zuem ini menjadi bekal awal yang sangat berharga dalam menapaki hari-hari penuh perjuangan dan pembelajaran di pesantren.

Tinggalkan Balasan