Toko Romlah

“Mengapa tidak kauceritakan kepada Anto dan Yuli tentang alasan Kakek tidak mau menjual toko ini.”

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada bulan Desember 1970, hujan sangat deras sejak asar hingga malam. Romlah melarang mereka pulang karena hujan sangat deras.

“Aku harus pulang malam ini, Dik Lah. Kemarin, aku sudah diminta oleh Pak Agus untuk membuat leding di sawahnya. Apalagi malam ini hujan deras, pasti kedelainya kebanjiran. Kalau tidak kukerjakan, besok pagi bisa gagal panen nanti kedelainya.”

“Jika begitu, istri dan anak-anakmu biarkan di sini. Bahaya kalau nambang1 malam-malam. Jalannya licin dan arus sungai makin deras,” pinta Romlah.

“Iya Mas, anak-anak sudah tidur masa kita bangunkan. Aku janji besok pukul 03.00 akan aku bangunkan Mas agar tidak telambat ke sawah,” rayu Sarni kepada Mulyono.

Karena rasa sayangnya kepada keluarganya, hati Mulyono luruh. Ia berniat mengajak pulang keluarganya dini hari nanti.

Suara Kabul yang sedang menyiapkan rengkek2 untuk berbelanja ke pasar membangunkan Sarni. Ia bergegas membangunkan Mulyono dan anak-anaknya untuk pulang. Suara gerimis kecil masih terdengar.

“Kami mau pamit pulang.”

“Brantas biasanya meluap kalau hujan deras. Bahaya lho untuk anak kecil. Apa nggak sebaiknya Mas saja yang pulang?”

“Aku ingin pulang bersama Bapak,” sahut Lia.

Romlah merayu Lia, tetapi mereka tetap besikukuh untuk pulang. Sarni dan Yudis terpaksa mengikuti kemauan Lia. Dini hari itu, mereka menuju tambangan3 yang sangat sepi.

“Tidak ada orang yang mengemudikan perahu.”

Air Brantas terlihat tinggi sampai menyentuh sesek2. Hati Mulyono dan Sarni menjadi kecut.

“Kita tunggu sebentar, semoga saja tukang tambangnya segera dating,” kata Mulyono kepada istrinya.

“Air sangat tinggi. Aku takut Pak, apa sebaiknya kita kembali saja?” kata Sarni kepada suaminya.

“Tenanglah, kita sudah berkali-kali menyeberangi sungai ini. Asal kita hati-hati pasti tidak akan terjadi apa-apa.”

Beberapa menit mereka menunggu, tukang tambang tidak kunjung datang. Hati Mulyono pun mulai tidak sabar.

“Aku akan mengemudikan perahu ini. Kamu jaga anak-anak.” Usai berkata, Mulyono menaikkan kedua sepedanya ke atas perahu.

“Ingat Lia, ini bukan tempat bermain. Pegang tanganku jangan sampai lepas!” perintah Yudis.

Lia hanya mengangguk. Sementara, Mulyono menahan perahu dengan bambu, Sarni melepaskan tambang yang terikat pada sesek. Dengan perlahan, Mulyono mengemudikan perahu. Beberapa menit kemudian mereka sampai di seberang sungai.

“Kamu turun dulu, Bu. Kemudian naikkan ke sesek, Yudis dan Lia!”

Sarni turun dari perahu, berdiri di atas sesek. Arus air deras menyebabkan perahu bergerak naik turun.

“Ayo kalian berdua lekas meloncat ke sini!”

Tinggalkan Balasan