Yudis dan Lia agak ragu meloncat karena goncangan perahu tidak seperti biasanya. Sarni bersiap meraih tubuh Yudis. Sebelum meloncat, Yudis berkata pada Lia,
“Aku meloncat dulu. Tapi jangan kau lepaskan tanganku.”

“Huum, Mas.”
Dengan keraguan, Yudis dan Lia meloncat bersamaan. Loncatan Lia tidak sejauh loncatan Yudis. Karena kaki Lia meleset, tubuhnya yang mungil terjatuh. Yudis memegang tangan Lia dengan erat, mencoba mengangkat Lia dari sungai. Sarni pun hanya mampu memegang tubuh Yudis yang terjatuh karena menahan Lia.
Mulyono yang panik, sontak melepaskan galah yang dipegangnya untuk membantu Yudis mengangkat adiknya ke sesek. Tetapi arus yang deras membuat Yudis tidak mampu menahan Lia lebih lama. Lia hanyut terbawa arus.
“Bu, kamu panggil warga desa untuk mencari bantuan!” Selepas berkata, Mulyono menceburkan dirinya ke sungai untuk mengejar Lia yang terbawa arus.
“Kamu tunggu di tanggul sini saja!” perintah Sarni kepada Yudis.
Terhihat Lia muncul di tengah sungai dan semakin menjauh dari tempat terjatuhnya. Mulyono berenang ke tengah sungai, sambil berpesan, “Nanti temui aku di toko Lik Lah, tunggu saja di sana!”
Yudis hanya melihat ayahnya yang kebingungan mencari Lia di ujung seberang sungai. Ayahnya berkali-kali berhenti untuk menarik napas sambil melepaskan tatapan tajamnya ke seluruh sungai tetapi tak ditemukannya. Yudis semakin takut ketika ayahnya terlihat kehabisan napas hingga timbul tenggelam di seberang sungai.
“Bapak…” Yudis berteriak ketika ayahnya sudah tidak muncul lagi.
Para warga mencari Mulyono dan Lia sampai beberapa hari kemudian, tetapi nihil.
***
Pada tahun 1983, Yudis setiap pulang kerja dari pasar Kertosono menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko Lik Lah untuk meminta Lik Kabul melamarkan Sulis.
“Bagiamana kabar ibumu, Yud?” tanya Lik Kabul.
“Alhamdulillah sehat.”
Yudis masih sering ke toko Lik Lah. Hatinya masih berharap Mulyono dan Amelia datang menemuinya di toko Lik Lah.
“Kamu mungkin tidak bisa menemuiku di toko ini lagi karena kami akan menjualnya.”
Hati Yudis terkejut mendengar ucapan pamannya. Ia khawatir akan kehilangan harapan bertemu Lia dan Ayahnya.
“Mengapa Pak Lik menjualnya?”
“Aku sudah renta, sudah tidak ada yang membantuku berjualan di toko ini.”
Semenjak Lik Lah meninggal, Lik Kabul telah kehilangan semangat bekerja di toko.
Catatan:
1Menyeberang sungai dengan perahu yang diikat dengan tambang dari tanggul satu ke tanggul lainnya.
2Keranjang dari dambu yang diletakan pada boncengan
3Pelabuhan perahu yang digunakan untuk nambang.
