Tongkat Berselendang Merah

Hari sudah mulai siang. Pemilihan kepala desa masih berjalan lancar. Tak ada kegaduhan antara pendukung masing-masing calon. Setelelah mencoblos, masyarakat pulang dengan tertib. Tapi tidak dengan perasaan orang yang memilih Subowo, mereka seperti orang linglung. Dalam diri mereka bertanya-tanya, kenapa tangannya mencoblos Parto, bukan Subowo pilihannya. Anehnya, mereka lupa kejadian itu. Setelah keluar dari tempat pencoblosan, mereka bersikap seperti tak ada apa-apa.

Rupanya, Parto yang menjadi dalang dari semua itu. Ia sengaja beralasan sakit. Padahal ia mengamati mulai tadi pagi dari atas tempat pencoblosan. Ia terbang menggunakan tongkat berselendang merah pemberian makhluk halus tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tongkat panjang berselendang merah itu oleh Parto dikibas-kibaskan untuk menaburkan cahaya buram tepat di atas tempat pencoblosan. Mata masyarakat yang mencoblos merasakan perih, pandangan mereka kabur. Sebab itulah pendukung Subowo mengalihkan pilihan ke gambar Parto. Berbeda dengan Parto yang terkekeh-kekeh menyaksikan dari atas. Ia begitu bersemangat mengibaskan selendang merah yang ia pegang.

“Dasar Subowo tolol. Asal kau tahu, hari ini tak cukup jika hanya mengandalkan kekayaan, orang licik sepertiku kau lawan,” ucap Parto seraya melihat ke arah Subowo yang duduk tenang. Parto begitu membanggakan cara liciknya.

***

“Kau nanti akan mendapatkan bagian dari uang rakyat,” ucap Parto kepada anak buahnya. Ia dengan kelicikannya berpura-pura berbaring lemah di kamarnya.

“Kenapa Tuan begitu yakin? Pendukung Subowo lebih banyak dari pendukung Tuan,” tanya anak buah Parto ragu.

“Serahkan saja kepada bosmu ini, Parto kok diragukan!” Parto selalu optimis atas rencananya. Ia sangat yakin akan memenangkan pemilihan kepala desa. Mulutnya selalu berbicara tanpa lelah dan membuat rencana-rencana busuk untuk menindas rakyat. Namun, ia sampai lupa memandikan kembang tujuh rupa pada tongkat berselendang merah yang berada di dekat ranjangnya. Padahal malam hampir tiba.

“Kabar buruk, Bos. Subowo memenangkan pemilihan kepala desa,” anak buahnya datang tergopoh-gopoh. Parto kaget bukan kepalang. Ia langsung teringat makhluk halus dan tongkat panjang berselendang merah itu. Ia telah berbuat lalai karena kesombongannya. “Tidak mungkin. Kursi itu milikku!” Parto berteriak histeris, kasur di ranjangnya ia bolak balik. Anak buahnya lari tungang langgang.

Tinggalkan Balasan