Pemakaman Mahsa akhirnya dilakukan sesuai permintaannya: kelak, ketika ia meninggal, satu-satunya benda yang diminta untuk dikuburkan bersama jenazahnya adalah topi kesayangannya. Itulah topi yang menentukan jalan hidup Mahsa.
Saat itu Mahsa adalah gadis cilik berusia lima tahun. Di hari ulang tahunnya yang kelima itu, untuk kali pertama Mahsa memperoleh kado dari orangtuanya. Dan baru pada ulang tahun kelima anak tunggalnya itu, orangtua Mahsa memiliki sedikit sisa uang untuk membeli kado. Sepulang dari bekerja, ayah Mahsa mampir ke sebuah toko dan membeli sebuah topi seharga dua puluh lima ribu rupiah.

Mahsa girang bukan kepalang ketika menerima kado dan ucapan selamat ulang tahun dari orangtuanya. Mahsa langsung mengenakan topi bundar berwarna pink itu, dan beraksi di depan cermin.
“Betapa cantiknya aku dengan topi ini,” kata Mahsa mengumbar senyum, langsung menghambur memeluki kedua orangtuanya.
“Kita jalan-jalan untuk merayakannya,” pinta Mahsa.
Sore itu, Mahsa diajak jalan-jalan oleh ayah dan ibunya dengan mengendarai sepeda motor. Sekadar jalan-jalan tanpa tujuan. Tapi Mahsa begitu bungahnya sepanjang perjalanan, seraya memamerkan kecantikan dengan topi barunya kepada dunia.
Namun naas, saat berada di jalan yang lumayan ramai di kawasan Ciganjur tak jauh dari Rumah Gus Dur, topi Mahsa terbang diterpa angin kencang dan jatuh di tengah jalan.
“Ayaaah, topiku jatuh!” Mahsa menjerit. Seketika sang ayah menghentikan motornya di tepi jalan. Sang ibu langsung turun dari sadel motor untuk mengambil topi anaknya. Mahsa menoleh ke belakang, memandangi topinya dengan cemas. Saat itu ada sebuah mobil yang meluncur deras, dan Mahsa langsung was-was kalau-kalau mobil itu melindas topinya. Mata Mahsa langsung melotot, bibirnya terkatup bergetar, kedua tangannya saling meremas.
Sadar di depannya ada sebuah topi anak-anak tergeletak, lelaki yang mengendarai mobil itu dengan refleks menginjak pedal rem dan membanting stirnya ke kanan. Ada suara mendecit dari gesekan ban ke aspal jalan. Ada teriakan dari pengendara lain yang nyaris bersenggolan. Topi itu selamat, terhindar dari lindasan ban.
Ketika ibunya memungut topi itu dari tengah jalan, Mahsa membalas tatapan lelaki yang mulai mulajukan mobilnya itu dengan senyum yang mengembang. Matanya berbinar-binar. Ia tertegun memandangi mobil lelaki itu hingga melaju di kejauhan.
