Sesampai di rumah, Mahsa menciumi topinya. “Topiku selamat, Ibu. Mulia sekali hati lelaki itu. Mungkin ia tak ingin aku sakit hati karena topi kesayanganku dilindas. Kita belum sempat berterima kasih, ia sudah pergi,” kata Mahsa pada ibunya.
“Tirulah kemuliaan hatinya. Itu cara terbaik berterima kasih,” sahut ibunya.

Mahsa mendekap topi itu di dadanya, begitu eratnya dekapan itu, berasa sampai ke ulut hati. “Mati pun rasanya aku tak ingin berpisah dari topi ini, Bu…”
“Husss, masih bocah jangan bercanda begitu,” sahut sang ibu sambil mencolek hidung mancung putrinya.
Tapi sejak saat itu, hingga Mahsa dewasa, topi itu tak pernah berpisah atau berada jauh darinya. Ketika topi itu sudah tak muat lagi di kepalanya, Mahsa akan menyimpannya di dalam tasnya ketika sedang bepergian. Atau menyimpannya di tempat istimewa di dalam kamarnya ketika ia berada di rumah. Mahsa terlihat begitu mencintai topi itu, dan memperlakukannya seperti benda pusaka.
Tapi apa yang terjadi sesungguhnya lebih dari itu. Bagi Mahsa, topi itu ternyata selalu menjadi pengingat dan pendorong dirinya untuk tidak menyakiti hati orang lain dengan cara apa pun, atau menyakiti benda-benda lain dengan cara apa pun, sebagaimana lelaki itu menghindarkan mobilnya agar tak melindas topinya. Dari sana akhirnya Mahsa tumbuh menjadi sosok perempuan yang selalu menyebarkan kebaikan, menebarkan kasih sayang, kepada siapa pun, pada apa pun. Mahsa sering terlihat menemani orang-orang yang dilanda kesedihan, atau berjuang untuk membela orang-orang yang bernasib buruk. Mahsa telah menjadi sosok yang begitu humanis. Orang-orang bilang ia adalah aktifis pejuang kemanusiaan, terutama untuk anak-anak yang kurang beruntung. Ketika menemani anak-anak yang kurang beruntung itu, ia sering terlihat membawa topi anak kecil.
Ketika akhirnya Mahsa meninggal karena suatu penyakit, topi kesayangannya itulah yang dikuburkan bersamanya.
***
Sekarang, di tengah hari penghakiman itu, ia benar-benar ingat sepenuhnya. Topi yang bayangannya menudungi dirinya, dan hanya dirinya, dari sengatan panas Matahari di Padang Mahsyar itu adalah topi yang nyaris terlindas mobilnya, andai saja ia tak lekas menginjak pedal rem dan membanting stir ke kanan. Ia juga mulai bisa mengingat akan wajah gadis kecil pemilik topi itu, yang tersenyum padanya bak bidadari.
Lelaki itu terus mendongak, memandang takjub pada topi itu, pada wajah gadis cilik yang tak pernah dikenalnya itu. Tanpa disadarinya, pelan-pelan kakinya melangkah seperti dituntun oleh gerak topi itu, yang seakan didorong sepoi angin. Ia terus melangkah mengikuti arah gerak topi itu, tapi tak berani menduga-duga ke mana akan menuju.
