Seperti halnya mengaji pada umumnya, Ngaji Kilatan ini dimulai setelah salat tarawih dan berakhir pada pukul 22.00. Ada yang lebih dari jam tersebut tergantung kebijakan pesantren masing-masing. Pengalaman saya mengikuti Ngaji Kilatan di pesantren membuat saya juga semakin berkembang dalam manajemen waktu. Karena, menjadi santri menurut saya tidak hanya belajar tentang ilmu agama, melainkan juga tahu cara mengatur waktu yang baik.
Jika jadwal mengaji jam segini berarti saya harus mandi jam segini; jika jam segini harus tadarus berarti jam segini saya harus mencuci pakaian saya, seperti itu misalnya. Di pesantren tempat saya tinggal, tadarus dimulai setelah salat subuh berjamaah sampai pukul 7.00 pagi. Selepas itu dilanjutkan dengan ngaji kitab kuning pada pukul 9.00 sampai pukul 11.00. Selepas salat dhuhur mengaji kitab kuning lagi sampai pukul 15.00. Begitu juga selepas salat asar. Pada malam hari setelah tarawih juga mengaji kitab kuning sampai pukul 22.00. Pesantren menerapkan jadwal tidak terlalu malam karena santri yang tinggal mayoritas adalah siswa sekolah yang tentunya juga mempunya kegiatan tersendiri di sekolah serta tugas yang harus dikerjakan.

Namun tinggal di pesantren itu sangat menyenangkan. Saya bisa mengenal banyak teman dari banyak daerah di Indonesia. Tidak hanya tentang agama yang saya dapat, ilmu sosial juga begitu mengena ketika tinggal di pesantren. Banyak orang baru dan watak baru yang harus kita kenal serta biasakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu bersosial juga sangat penting ketika menjalani kehidupan di pesantren. Karena, selain ilmu yang didapat dari kitab yang dikaji, kita bisa dapat ilmu kehidupan yang bisa kita bawa pulang untuk kemudian diterapkan dalam lingkungan masyarakat kita sehari-hari.
