Tradisi Sastra dan Pesantren Annuqayah Guluk-guluk

Didin, sembari memegang sebuah buku puisi berjudul “Sembahyang Rerumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda, mengatakan: “Satu hal yang membuat saya suka menulis puisi, karena para kiai juga menulis puisi. Saya ingin meniti barokah kepada para ulama dan kiai baik yang sudah wafat pun yang masih hidup. Al-Ghazali mengatakan, jika kamu bukan putra raja atau putra seorang ulama besar, maka jadilah penulis.”

Pengakuan Fandrik: satu pengalaman yang saya banggakan lebih dari sebuah tropi dan honor tulisan, adalah ketika saya bisa berbagi kepedulian dengan orang lain melalui tulisan. Bagi saya, momen seperti itu merupakan juara sepanjang masa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sanggar Safa, organisasi yang membidangi sastra, dirintis pada tahun 1988 di Annuqayah. Meski harus tutup buku di usianya yang seumur bawang, cukup dijadikan sebagai gong besar momen dan bekal mereka atas diizinkannya para santri berkarya sastra dan bergiat di dunia kesenian di bawah restu para kiai. Ibarat hujan, Sanggar Safa adalah air yang menyirami ladang seni dan sastra Annuqayah. Aryadi Mellas, sang nabi sastra Annuqayah, mencangkul dan memberi pupuk serta menaburinya dengan benih-benih kreativitas kesenian dan kesusastraan.

Tak berapa lama, sanggar-sanggar kesenian, bengkel-bengkel puisi atau rumah-rumah teater tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Majalah dinding sekolah, madrasah dan asrama santri tak pernah sepi dari karya-karya puisi dan cerpen atau yang ditulis santri-santri. Puncaknya adalah pembacaan puisi karya Aryadi Mellas, pada malam penobatan santri dan santriwati teladan.

….

Malam ini, Selaksa nikmat tertancap di dadamu, Detik dadamu, Sejuta rasa bak muara mengalir di sukmamu, Buah usaha, dzikir dan do’a, Malam kau telah nikmati

….

Bila sastra Indonesia merujuk kepada silsilah sastra Melayu, kesusastraan Indonesia harus berterima kasih kepada pondok pesantren karena telah melahirkan sastra Indonesia dari seorang santri, dari seorang ulama bernama Hamzah Fansuri. Selanjutnya di tanah air, sastra modern dipelopori oleh Abdullah Abdul Karim Al Munsyi, seorang ulama pesantren tarekat.

Dengan pesonanya, media sastra menyentuhkan roh agama dengan roh penganutnya tanpa jarak. Islam disampaikan dengan sentuhan-sentuhan seni bahasa yang mempesona. Al-Quran layaknya suara indah yang merangkum semua suara roh dan energi puisi, nikmat dibaca dan sejuk didengarkan. Lewat keindahan rangkaian estetika  atas kata demi kata, anyaman kalimat demi kalimat, dari kejadian ke kejadian dalam hikayat; para penganut agama Islam memaknai ajaran Islam dalam hidupnya melalui tafsir-tafsir, demikian pula sabda-sabda hadis dan kitab-kitab kuning.

Pesona sastra dipandang sebagai satu-satunya pengejewantahan relung jiwa manusia sastrawan santri dalam suatu medan kesenian dan kesusatraan. Sastrawan santri berkarya sekaligus mengejewantahkan makna karya ke dalam kehidupan nyata.

Bergenerasi-generasi, kurun waktu 1887 sampai sekarang, jejak-jejak perjuangan KH Muhammad Syarqowi, KH Abdullah Sajjad, KH Ahmad Basyir AS, KH Abdul Basith AS, KH Abd A’la, Kiai M Zamiel El-Muttaqien, Kiai M  Faizi, Kiai M Mushthafa, serta segenap pengasuh Annuqayah, menghadapi dan melawan penjajahan dan penindasan terhadap manusia terlihat jelas dalam maknanya yang tersurat dan tersirat.

Dengan demikian Pondok Pesantren Annuqayah merupakan kawah candradimuka, tempat para kiai memanusiakan santri-santri mencapai maqom mulia Insan Kamil, bila ia luput dari derajat kewalian atau kenabian. Sungguh sastrawan santri merupakan manifestasi-Nya yang luhur sekaligus indah. Pada tingkatan ini, sastrawan santri benar-benar memikat dan mempesona.

Begitulah yang tergambar dari buku Sastrawan dan Santri karya Badrus Shaleh ini.

Wallahualam bishawab.

Rumah Merah Kukusan, 19 04 2020.

Tinggalkan Balasan