Ketika santri-santri berjalan kaki membawa buku atau kitab, maka buku atau kitab itu akan didekap di bagian dadanya. Begitu dekatnya wadah ilmu dengan letak hati dan jantungnya, keduanya mungkin saling bercakap lewat kesunyian tinta dan kertas kepada degub-degub di dada. Seumpama saling menuntun untuk berzikir dan mendoakan kebaikan kepada seorang santri yang takzim membawa bahan bacaan.
Seorang santri laki-laki yang baru saja mengikuti pembacaan salawat nabi di sebuah musala, menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menjawab “tidak”, saat ditanyakan kepadanya “apakah kamu baru saja melakukan pertunjukan sastra?”

Membaca dan menghafalkan sejumlah kitab nazaman dan syi’ir-syi’ir bisa dilakukan setiap hari, siang dan malam. Selain itu para santri juga menghafalkan natsar-natsar berbahasa Arab. Dengan seringnya membaca dan menghafal puisi-puisi Arab yang terkandung dalam kitab-kitab Alfiyah karya Ibnu Malik, Imriti dan Maqsud, santri menjadi mudah mengetahui dan memahami pelajaran bahasa dan sastra Arab serta mengerti kandungan isinya. Dari pengalaman demikian, keakraban santri dengan sastra tanpa sekat dan batas. Ketika ber-nazaman, para santri tanpa sadar sedang mempertunjukkan suatu performa yang bernilaikan estetika. Kebersahajaan tradisi yang membangun karakter mereka meresapi hidup, menghayati makna seorang hamba Allah yang terus menjaga nilai-nilai Ilahi di dalam jiwanya.
Kemudian sang santri bertanya kepada seorang ahli seni atau gurunya: “Seperti apakah seni yang bagus?”
Buku, kitab, kiai, nyai, dan ustadz dianggap sebagai sumber barokah, yaitu ilmu yang diberikan oleh Allah. Barokah bertambahnya kebaikan terhadap ilmu dan adab seseorang. Atau sebagai perwujudan lain sebuah karma. Peribahasa santri Madura: “Mun e ponduk ngecok jarum, maka e roma ngecok jaran”. Para santri menyikapi puisi-puisi, syi’ir, dan nazaman sebagai kitab suci yang adiluhung, yang bernilai agama bahkan dipandang magis, yang mana bila menyepelekannya akan mendapatkan dosa, azab, dan dianggap bagian dari perbuatan maksiat dan kemungkaran.
Bagi mereka tidak penting lakunya itu dianggap sebagai perilaku berpuisi atau tidak. Santri-santri itu berharap rahmat Allah, semakin dekat, semakin dekat kepada-Nya. Bakda azan lima waktu dan setelah Salat Jumat, santri-santri membaca puisi Arab “Iktiraf”, karangan penyair dan tokoh humor legendaris Abu Nawas, penyair kebangsaan Baghdad pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah.
Selain itu, masyarakat santri menjadikan pembacaan dan penghayatan puisi-puisi sebagai aktivitas yang bernilai maknanya untuk mendapatkan ketenangan jiwa, solusi hidup, atau jalan keluar dari suatu kondisi permasalahan realitas hidup yang mungkin larat dan rumit. Bahkan, di saat tak ada lagi logika dan daya upaya, puisi-puisi Arab itu akan menjadi ajian-ajian yang dianggap mengundang keramat dengan cara supranatural. Puisi-puisi Arab telah bermultifungsi dalam kebudayaan Islam menjadi sangat banyak dan terus berkembang sampai saat ini.
Dengan cara-cara tersebut, jalan tempuh untuk mencapai puncak-puncak kerohanian penganut agama sebenarnya melalui sastra, sebagaimana wahana para waliullah mencapai gunung-gunung makrifat, sebuah puncak ilmu kebatinan seorang hamba Allah.
Di SMA 3 Annuqayah, salah satu sekolah khusus santri perempuan, pengurus sekolah mewajibkan para peserta didik membaca buku sebelum pelajaran dimulai. Buku-buku perpustakaan itu diantarkan oleh kepala sekolah dan guru-gurunya ke tiap-tiap kelas.
Di Madrasah Aliyah Keagamaan Annuqayah, Bapak Hasbi memberikan honor bagi santri yang tulisannya dimuat di majalah dinding, sehingga siswa-siswa satu kelas menjadi bersaing. Tidak hanya itu, madding antarkelas juga berkompetisi.
Memory book Santri Angkatan 2007 diberi judul Rosail El Asywaq (Pesan-pesan Kerinduan) berisikan biodata-biodata guru dan siswa, suplemen berisikan profil lembaga, puisi-puisi perpisahan dan catatan sejumlah penghargaan yang diraih oleh siswa-siswa angkatan tersebut, di antaranya: Juara I Lomba Sinopsis Buku (Perbankan dalam Islam) se-Kabupaten Sumenep dalam rangka memperingati Hari Baca Nasional 2014. Nasional di Jakarta 2006.
Saat waktu senggang, santri-santri bersyair dan berpuisi, ada juga yang main sepak bola. Jatuh cinta adalah persoalan serius dalam proses kreativitas tulis-menulis yang dialami sastrawan-sastrawan muda yang berproses di pondok pesantren. Pagar tembok antara asrama laki-laki dan asrama perempuan tak bisa menghalangi surat-surat cinta dengan bahasa-bahasa puitis dilayangkan lewat agen-agen rahasia yang diusahakan tidak diketahui oleh pihak pengurus pesantren atau keluarga pengasuh.
Faqih Usman Dedja berpuisi:
MAJNUN
Aku bukan Qais yang majnun, Tapi aku Faqih yang akan mengangkatmu, Sebagai Laila
