Tradisi “Wallahu A’lam Bisshawab” Kaum Santri

Secara harfiah, wallahu a’lam bisshawab mempunyai arti hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Hal ini tentu sudah tidak asing lagi di kalangan santri. Akan tetapi, sejatinya kalimat ini bukan hanya sekadar jargon. Kalimat ini adalah upaya tabid (pembiasaan) agar kita (guru/ustadz) selalu ingat bahwa penjelasan yang dilakukan adalah upaya mendekati kebenaran, tetap rendah hati dalam beragama dan mengimani serta menghidupkan pemilik kebenaran sejati, yaitu Allah. Kita tidak punya hak otoritas dalam menentukan bahwa pendapat kita mewakili kebenaran Allah. Sebab, apa yang kita sampaikan dalam mengajar boleh jadi tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin dikisahkan kehidupan para ulama pada zaman dahulu. Sebagian dari mereka menangis tersedu dan sedih manakala pendapatnya diikuti dan dipakai oleh orang lain. Tentu saja itu bukan tangisan bangga, namun tangisan sedih. Sebab, ia takut menanggung tanggung jawab manakala pendapatnya salah dan tidak sesuai dengan kehendak Allah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagian ulama yang lain, jika ditanya tentang suatu hal, mereka tidak langsung menjawabnya, namun mereka berkata “saya belum tahu jawabannya”. Lalu mereka melakukan kajian terlebih dahulu, dan setelah mantap hasil kajiannya baru disampaikan dalam bentuk jawaban.

Tinggalkan Balasan