Trans7 dan Jurnalisme Jongkok 

Jika dilihat secara keseluruhan, tayangan itu memang sangat problematik, entah disebabkan oleh prasangka atau kebodohan kreatornya. Tayangan berdurasi sekitar tiga menit itu sesungguhnya terdiri dari dua scene pokok. Yang pertama, barisan santri yang bersalaman dengan kiai dengan jalan membungkuk atau jongkok. Dalam tayangan itu, sebagian menyerahkan amplop kepada kiai. Yang kedua, kiai yang sama turun dari mobil (mewah) Alphard.

Andaikata gambar tersebut ditampilkan seperti apa adanya, tak akan berimplikasi apa-apa. Ia adalah fakta. Fakta akan berbicara apa adanya. Masalah muncul justru ketika dalam tayangan tersebut, gambar-gambar itu dilengkapi dengan teks narasi (audio description) dan audio narasi (voice over). Sebab, pertama, narasinya sepenuhnya berupa judgment (penghakiman) yang menjurus pada negative framing. Kedua, pilihan diksi dan karakter vokal naratornya dibuat-buat sedemikian rupa sehingga muncul kesan sedang mengolok-olok “realitas” yang tertayang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Inilah narasi negative framing dan olok-olok yang membingkai “realitas” yang tertayang itu. “Santrinya aja minum susu kudu jongkok, emang gini kehidupan pondok?” dan “Kiainya yang kaya raya, tapi umatnya yang kasih amplop“.

Dengan begitu, apa yang ditayangkan Trans 7 melalui program Xpose Uncensored tersebut merupakan produk siaran (jurnalistik?) yang cacat dan mengandung kesalahan-kesalahan fatal.

Pertama, menempatkan sosok kiai sebagai selebritas dan kehidupan pesantren sebagai panggung hiburan sehingga tradisi itu diangkat ke dalam program Xpose Uncensored. Sebab, kemasan Xpose Uncensored memang program hiburan.

Kedua, penayangan program tersebut tidak mengikuti prosedur kerja jurnalistik atau penyiaran. Contohnya, tidak didahului dengan riset, wawancara, atau pendalaman. Narasi yang membungkus gambar-gambar yang ditayangkan itu membuktikan bahwa yang menyusun narasi tidak paham realitas sebenarnya dari yang dinarasikan. Mereka tidak paham pada tradisi yang hidup begitu lama di dunia pesantren.

Tinggalkan Balasan