Trans7 dan Jurnalisme Jongkok 

Ketiga, penayangan video kontroversial tersebut sekaligus melanggar kode etik jurnalistik dan etika penyiaran, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Pers maupun UU Penyiaran.

Karena cacat dan mengandung kesalahan-kesalahan fatal tersebut, sangat wajar jika kemudian tayangan tersebut menimbulkan kemarahan publik, terutama dari kalangan pesantren. Pertanyaannya adalah, kenapa materi atau konten seperti itu bisa lolos tayang? Karena kelalaian, kesengajaan, atau kebodohan?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rasanya sulit dimengerti lembaga penyiaran sekaliber Trans7 (bagian dari Trans Corp) kalah jauh dari duniasantri.co dalam hal bagaimana melakukan kritik yang cerdas, kritik yang konstruktif, kritik yang beradab.

Portal duniasantri.co, meskipun memposisikan diri sebagai medianya kaum santri, justru begitu sering mengkritik dunia pesantren, dunianya sendiri. Begitu banyak tulisan-tulisan santri di duniasantri.co yang merupakan otokritik. Ini bukti bahwa pesantren tidak antikritik.

Karena itulah, judul tulisan ini menggunakan frasa “jurnalisme jongkok” pada tayangan Trans7 untuk menggambarkan dua hal. Pertama, produk siarannya atau jurnalistiknya nir-kecerdasan yang dalam ungkapan disebut otak jongkok. Kedua, “jurnalisme jongkok” menggambarkan jurnalisme yang menghamba (dengan cara jongkok atau ngesot) pada rating, viralitas, dan kapital. Ia tak peduli pada tanggung jawab publik. Yang dipedulikan adalah bagaimana produknya mendatangkan sebanyak-banyaknya cuan.

Jadi siapa sebenarnya yang jongkok bahkan ngesot? Santri atau Trans7?

Tinggalkan Balasan