Trayektori Sastra Pesantren dan Kebudayaan Lokal

Kehausan akan ilmu pengetahuan dan eksplorasi penjelajahan benua-benua baru, hingga masuknya kolonialisme dengan misi memperadabkan Timur, bangsa Eropa, terlebih Belanda dalam konteks Indonesia, menempatkan dirinya sebagai bangsa yang unggul. Mulai dari antroposentrisme kulit putih, perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, hingga evolusi sains.

Segala pengakuan keunggulan dan kemajuan itu terus berlangsung dengan invasi sumber daya alam di negeri Hindia Timur. “Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang”, demikian dalam ungkapan sejarawan Ong Hok Ham, yang menggambarkan betapa segala pengetahuan dan tatanan lama telah hilang dan berganti. Dunia Eropa menjadi haluan baru dalam peradaban dunia modern.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memasuki paro kedua abad ke-19, ketika kekuasaan kolonial telah sangat mapan, pemerintah Hindia Belanda tidak lagi khawatir atas hegemoni kuasa. Maka, rasa superioritas menjadi sangat dominan, dan memunculkan sikap sebagai penguasa. Lalu pemerintah kolonial mulai menganggap dirinya guru, bahkan sebagai pengawas bagi bangsa yang dianggap belum terpelajar.

Setelah diberlakukannya politik etis, terutama dalam hal pendidikan, pemerintah kolonial mulai memberlakukan pengajaran dengan metode modern di sekolah-sekolah Hindia Belanda. Dalam bidang sastra, pengajaran sastra diberlakukan pada para penutur sastra daerah. Sastra kemudian dikanonisasi dalam bentuk yang baku sesuai dengan kerangka kolonial. Karena sastra dianggap menyimpan nilai ideologi, maka ideologi ini yang kemudian ditundukkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Cara kerja kolonial ini kemudian menjadi acuan utama oleh ilmuwan-ilmuwan sosial lain, seperti diungkapkan seorang sosiolog asal Inggris bernama Tonny Bennet. Ia menyebut bahwa penundukan dalam bidang sastra tersebut sebagai ‘tradisi yang dikanonisasi’.

Bagi Tonny Bennet, sastra bukanlah dua aktivitas yang tidak saling berhubungan; antara lisan dan tulisan. Sastra dalam cara kerjanya bukanlah kesastraan sebagai totalitas imajinasi atau fiksi-fiksi yang netral, melainkan sastra sebagai “kanon atau korpus yang dibentuk menurut ideologi tertentu, yang bergerak dengan cara-cara yang sudah tetap di seputar lingkungan lembaga pendidikan”.

Mikihiro Moriyama, seorang antropolog berkebangsaan Jepang yang meneliti sastra Sunda, mencoba menelaah cara kerja itu dalam disertasi yang ditulisnya berjudul “Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19”. Ia berpendapat bahwa sastra Sunda didaku, ditemukan, lalu dikanonisasi oleh para sarjana kolonial, yaitu oleh para orientalis, terutama K.F. Holle.

Jika ditelusuri lagi, pengakuan tersebut sebenarnya berangkat dari gagasan para romantikus abad ke-19, terutama Prancis, yang menilai kesastraan adalah pada yang tertulis (latin). Literatur merupakan kata baru yang kemudian diadopsi oleh Belanda (litterkunde). Ia berasal dari asal kata berbahasa Prancis (literature), yang membentuk makna baru yaitu ‘kesusastraan.’ Belanda lalu menelan mentah-mentah istilah literatur tersebut, dan mengabaikan unsur ideologi yang terkandung di dalamnya. Dengan asumsi itu, Belanda menganggap bahasa dan budaya Prancis lebih unggul.

Tinggalkan Balasan