Trayektori Sastra Pesantren dan Kebudayaan Lokal

Sebagaimana terbesit dari etimologi kata literature, yaitu tulisan. Implikasinya, tidak terpikirkan oleh para sarjana Belanda ini, bahwa bahasa yang berseni (sastra) bisa ditemukan dalam bentuk lisan.

Keberaksaraan dalam pengetahuan tradisi, bermakna kemampuan baca tulis pada aksara Arab dan aksara Sunda atau Jawa. Kemampuan baca tulis ini didapatkan di langgar dan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional. Munculnya dunia modern, dengan dibukanya sekolah-sekolah untuk Bumiputra, kemampuan baca tulis bertambah, bahkan bergeser menjadi aksara latin, yang didapatkan dari buku-buku sekolah di bawah pengawasan pemerintah kolonial.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keberaksaraan (literacy) dalam aksara Latin, pada gilirannya, menghasilkan komunitas pembaca modern yang terus berkembang. Pada saat bersamaan, aksara Latin menciptakan perasaan rasa menjadi suatu kelompok dan kelas baru, yaitu manusia modern terpelajar.

Implikasi berubahnya keberaksaraan (baca tulis), sebagai dampak langsung dari modernitas, beranggapan bahwa ‘yang lebih penting dari bahasa adalah transformasinya’, alih-alih sebatas melestarikan bunyi dan aksara lokalnya. Terkait rransformasi bahasa dalam arus modernitas ini, kita bisa menelisik perkembangannya dalam bahasa Indonesia, yaitu suatu transformasi bahasa yang berkembang dalam komunitas dagang di Semenanjung Melayu.

Tranformasi aksara Latin yang diperkenalkan oleh Belanda ini telah sepenuhnya dianut dan berlaku di semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara kita hari ini. Begitu pula dengan aksara pegon, yang merupakan transformasi keberaksaraan Arab-lokal dalam tradisi kitab kuning di dunia pesantren.

Realitas kehidupan modern telah sepenuhnya terkiblatkan pada dunia Eropa (Barat), sebagai barometer kemajuan global-universal. Namun di balik kemajuan itu semua, manusia modern seperti tidak menyisakan ruang untuk mengukur kemajuan kesastraan dan kebudayaan dari tradisi sendiri. Karena, dalam pengetahuan tradisi, untuk mencapai pengetahuan universal justru merupakan kesatuan dengan partikularitas yang beragam.

Munculnya wacana posmodernisme, merupakan satu penyebab kekosongan yang tidak ditemukan dalam modernitas, yaitu unsur tradisi, yang merupakan awal mulanya sang subjek berada. Dengan demikian, dalam posmodernisme, unsur tradisi dan Islam sebagai identitas bisa didudukkan kembali posisi pentingnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimanakah sastra pesantren yang mewarisi sastra Islam dan kebudayaan lokal yang termanifestasi dalam unsur tradisi itu, bisa menemukan kontekstualnya dengan dunia modern hari ini. Tentu hal tersebut menjadi pekerjaan bersama dan kerja-kerja kebudayaan para intelektual dan sastrawan kiwari.

Tinggalkan Balasan