Trimo dan sebuah Cerita yang Berawal dari Es Teh

Mungkin karena totalitas dari para pekerjanya dan banyak doa yang dipanjatkan untuknya, usaha peternakan dan pertanian Trimo berkembang sangat pesat. Jagung dan singkongnya tak pernah gagal panen. Saat musim panen tiba, berkontainer-kontainer jagung dan singkong dikirim ke seluruh penjuru provinsi. Batang, daun, dan limbah lainnya dari jagung dan singkong digunakan untuk stok pakan sapi berbulan-bulan ke depan. Saat stok sudah habis, akan tiba lagi musim panen yang membuat gudang pakan terisi penuh kembali.

Saat Idul Adha tiba, jangan ditanyakan lagi bagaimana euforianya. Tidak hanya satu hari saja yang digunakan untuk penyembelihan sapi. Selama tiga hari tasyrik, para warga masih sibuk menjagal sapi yang kadang-kadang harus meladeni ngamuknya yang amat sangat membuat kelelahan karena kebanyakan hewan kurbannya adalah sapi yang berukuran jumbo. Daging sapi tak hanya memenuhi dapur-dapur di kampung tersebut, tapi juga puluhan kampung di sekitarnya. Orang-orang menamai empat hari itu sebagai “Festival Jagal Trimo”. Yang lain menyebutnya “Festival Pembantaian” karena memang penampakannya seperti sebuah pembantaian. Puluhan sapi dikumpulkan ke dalam sebuah lapangan bola yang kemudian tumbang satu per satu dengan darah yang menggenang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai seorang Muslim yang taat, Trimo juga tidak pernah melupakan masjid kampung. Sebelum kesuksesannya yang sekarang, alih-alih mengatakan itu adalah masjid, tampak seperti rumah yang layak huni pun tidak. Jika dilihat sekilas, mungkin orang-orang akan mengasosiasikannya dengan gambaran surau di cerpen Rubuhnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis. Bentuknya seperti gubuk reyot yang sering dilihat di sawah-sawah kampung. Atapnya yang terbuat dari blarak kelapa sering diambil oleh para perempuan yang kehabisan kayu bakar saat ingin memasak. Lantainya yang disusun dari bilah-bilah bambu sering hilang satu per satu saat musim angin kencang tiba. Anak-anak sering mengambilnya untuk membuat kerangka layang-layang.

“Joy, urusi masjid kita. Bila perlu, ubahlah menjadi seperti masjid di Solo yang dihadiahkan oleh Raja Arab kepada Pak Presiden tempo hari.”

Begitulah kemudian Joyo menjual lima ekor sapi limusin paling jumbo yang ada di kandang. Uang penjualan diterima dan dalam sepersekian bulan, sebuah proyek besar untuk membangun sebuah masjid yang juga besar dijalankan. Bedanya dengan proyek food estate milik pemerintah, masjid ini lebih terasa manfaatnya. Ya, walaupun hanya penuh seminggu sekali setiap salat Jumat.

***

Trimo sedang mengenang masa jaya-jayanya itu saat jeruji besi yang mengurungnya tiba-tiba dibuka oleh seorang petugas.

“Pak Trimo, ada yang ingin menemui Anda.”

Orang itu tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek. Kulitnya yang sebelumnya hitam legam karena sering dijemur di ladang sedang bertransisi menjadi lebih kuning karena pekerjaan akhir-akhir ini yang mengharuskannya mengurusi hewan-hewan ternak di dalan ruangan.

“Saya menyesal, Kang Mas…,” tenggorokannya tercekat dan kata-katanya tergantung.

Sebelum hidup dalam kejaran lintah darat seperti sekarang ini, Joyo adalah penguasa tunggal peternakan dan ladang setelah Trimo. Bukan dengan penyerahan jabatan secara resmi, melainkan seperti serah terima jabatan antara Trimo dan Kaji Patah. Bedanya, jika antara Kaji Patah dengan Trimo terjadi secara kebetulan, antara Joyo dan Trimo terjadi dengan sistematis dan terukur, walaupun dipantik juga dengan suatu peristiwa yang tidak terduga.

Ceritanya berawal beberapa bulan yang lalu. Kerajaan Trimo semakin membesar, sapinya semakin banyak, dan ladangnya semakin luas. Tawaran mencalonkan diri menjadi kepala desa berkali-kali datang yang selalu disusul oleh “nanti saya pikir-pikir dulu”. 

Di tengah itu, dari berbagai daerah, mulai tersiar berita-berita tentang peternak sapi yang bangkrut karena penjualan sapi mereka kalah bersaing dengan daging yang diimpor dari Australia. Kata Menteri Pertanian, “Kualitas daging sapi milik peternak-peternak kita rendah. Untuk menyokong Indonesia Emas 2045, dibutuhkan makanan yang bergizi untuk dikonsumsi masyarakat.”

“Pemerintah memang sangat membingungkan. Alih-alih berproses untuk meningkatan kualitas sapi lokal, mereka maunya malah yang instan,” kata Trimo kepada Joyo pada suatu ketika.

Di kabupaten sebelah, mulai muncul gerakan untuk menentang pemerintah. Ribuan peternak berkumpul di depan gedung DPRD. Para demonstran bukannya membakar ban, melainkan berton-ton daging sapi. Gedung DPRD dalam beberapa saat berubah menjadi seperti pabrik sate. Orang-orang yang tidak tahu apa yang  terjadi di sana mungkin akan mengira sedang ada festival kuliner. 

Tinggalkan Balasan