Trimo dan sebuah Cerita yang Berawal dari Es Teh

Bagi Trimo, kejatuhan tinggal menunggu hari. Ia sudah pasrah jika memang dirinya ditakdirkan akan menjadi pedagang es teh kembali. Lagipula, profesinya yang sekarang ini juga bukan kehendaknya yang disengaja. Ia juga merasa telah membantu banyak orang yang sebelumnya kehilangan pekerjaan mereka. Masjid pun sudah dibangunnya kembali.

“Jika memang ditakdirkan bangkrut, semoga saja orang-orang kampung sudah menabung sejak pertama kali bekerja denganku,” kata Trimo lirih sambil memandangi ladangnya pada suatu senja yang kelabu. Namun, yang mengganjal di hati Trimo adalah gelagat adiknya yang mencurigakan akhir-akhir ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada akhirnya, bom waktu dari kabupaten sebelah menjalar ke perusahaan Trimo. Mau tidak mau, paling tidak untuk tidak memperparah kebangkrutan, Trimo harus mem-PHK satu per satu karyawannya. Sambil menerima pesangon yang tidak seberapa, satu per satu wanita menangis, mengatakan tentang mengapa Trimo tega melakukan ini. Satu per satu laki-laki memohon-mohon agar mereka tetap dipertahankan.

“Paling tidak, saya kebagian jatah buat nimpali kotoran, Pak Trimo,” kata salah satu dari mereka.

Akan tetapi, sekarang bukan waktunya untuk mengasihani orang, pikir Trimo. Mengasihani mereka malah akan memperburuk keadaan. Bayangkan saja, jika karyawan sebanyak itu tetap dipertahankan, mau digaji apa nantinya.

Gelagat Joyo yang sudah lama tercium akhirnya mulai menampakkan wujudnya. Joyo rupanya telah mengumpulkan massa sejak jauh-jauh hari untuk melengserkan Trimo. Orang-orang yang masih belum terima di-PHK dengan senang hati menerima ajakan Joyo yang diiringi iming-iming mendapatkan kembali pekerjaan mereka. Juga kampanye tentang  kesejahteraan yang lebih daripada masa kepemimpinan Trimo.

Pada suatu senja, seperti biasa Trimo sedang memandangi ladangnya. Suatu rutinitas yang akhir-akhir ini selalu dijalaninya sambil memikirkan nasib para karyawan yang dipisahkannya satu per satu dari pekerjaan mereka. Dan senja itu, rupanya senja yang lebih kelabu dari senja-senja sebelumnya.

Dari jalanan yang membelah ladang, muncul mobil polisi yang diiringi oleh arak-arakan manusia di belakangnya. Massa yang sekian banyaknya itu mengacung-acungkan sabit sambil berteriak-teriak kesetanan.

“Ganyang Trimo!!”

“Tangkap Trimo!!”

“Trimo tidak memikirkan orang lain!!!”

Sekilas, peristiwa itu tampak seperti  pemberontakan kaum Bolshevik kepada para tuan tanah di Russia.

Seorang polisi yang amat dikenali Trimo menyerahkan selembar surat kepadanya. Ya, polisi itu adalah keponakannya, anak Joyo yang disekolahkan Trimo, dan surat itu adalah petisi penangkapan Trimo yang ditandatangani lebih dari seratus orang kampung.

Sejak saat itu, Joyo mulai membangun kembali peternakan yang sudah digerogoti kebangkrutan itu dengan dana yang dipinjam dari seorang pengusaha dari kota. Orang-orang kampung kembali mendapatkan pekerjaannya. Hingga akhirnya, tanpa pengetahuan tentang manajemen yang baik, perusahaan yang digadang-gadang akan bangkit kembali itu hanya menjadi sebuah fatamorgana di gurun terbuka.

Sumber ilustrasi: ku ka.

Tinggalkan Balasan