Tokoh populis dengan karakter seperti ini selalu menaburkan narasi kecurangan di pihak lawan, bahkan sebelum pertandingan dimulai; hanya kecurangan yang bisa menumbangkan dirinya. Narasi seperti ini dibangun untuk menggiring dan membentuk opini publik bahwa dirinya sebagai representasi dari kebenaran dan kebaikan, dan sisi yang berseberangan, lawannya mewakili kesesatan dan kejahatan. Kontestasi demokrasi dibayangkan sebagai peperangan antara kebaikan melawan kejahatan, antara tentara Tuhan melawan setan-setan.
Jika akhirnya memenangi kontestasi demokrasi, dan duduk di kursi kekuasaan, apa yang dilakukan tokoh populis seperti ini dengan kekuasaannya adalah pembusukan dan pembunuhan demokrasi dari dalam, justru melalui cara-cara dan lembaga-lembaga demokrasi. Yang paling kasat mata adalah apa yang dilakukan melalui pengerasan politik identitas. Baik politik identitas berdasarkan agama, ras dan kesukuan, maupun kelompok-kelompok lain. Pengerasan politik identitas ini, di antaranya, mewujud pada penegasian atau penafian terhadap kelompok identitas lain.

Yang paling ekstrem, misalnya, terjadi pada pengerasan politik identitas berbasis agama. Beragama tidak lagi berurusan dengan bagaimana menjadi manusia yang lebih baik, melainkan bagaimana meniadakan atau bahkan kalau bisa membasmi mereka yang tak seiman.
Amerika hanya untuk orang Amerika, atau America First, adalah jargon politik Trump yang mengisyaratkan suatu kebijakan yang “tertutup” di tengah dunia yang tak lagi tersekat-sekat oleh batas-batas kuno. Itu bagian dari pengerasan politik identitas selama empat tahun terakhir Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump. Di sana, Trump akan membawa bangsa Amerika hidup dalam kotak tempurungnya sendiri, dengan membenci bangsa lain. Trump membayangkan, Amerika akan dikelilingi oleh benteng setinggi langit, seperti istana raja-raja di masa lalu, agar masyarakat dari negara-negara sekitarnya tak bisa menerobos masuk.
