…, Trump, dan Lain-lain

Sekali lagi, jika kita membaca kembali buku karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, tergambar bagaimana demokrasi di Amerika Serikat, yang dulu mendaku sebagai kampiun demokrasi dunia, mengalami pembusukan dan menuju kematian. Puncaknya adalah saat tokoh politik populis seperti Trump memasuki Gedung Putih.

Trump memang fenomenal. Tapi ia bukan fenomena pertama dan terakhir. Masih banyak yang lainnya. Di banyak negara, entah di Eropa, Asia, atau lainnya, banyak muncul tokoh-tokoh polulis dengan karakter Trump. Politik identitas, yang penguatannya diusung oleh tokoh-tokoh populis seperti ini, memang seperti lagu nina bono, ia begitu menenangkan dan melenakan. Tapi begitu kita terlena, dimulailah babak baru anti-demokrasi itu

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pengerasan politik identitas baik berbasis agama maupun ras atau etnis akhirnya seperti wabah, pandemi, yang terus menular dan menjalar ke mana-mana. Apa yang pertunjukkan oleh Prancis, juga Turki, hanya sebagian kecil contohnya. Juga di Indonesia.

Beruntung, hasil pemilu Amerika Serikat saat ini bukan cerita tentang kemenangan Joe Biden, melainkan tentang ketertolakan Trump untuk memasuki Gedung Putih kedua kalinya. Rakyat Amerika tidak sedang memenangkan Joe Biden, tapi lebih memilih menolak Trump. Sepertinya orang Amerika sedang mencoba berbenah, karena rumah demokrasinya sedang goyah.

Tinggalkan Balasan