“Sehingga para pembesar dari guru-guruku meng-ijazahkan kepadaku untuk membacakan dan memberikan faidah dari ilmu-ilmu tersebut, serta mengurai berbagai kemusykilan di dalamnya dengan sebuah tulisan, kemudian ijazah untuk berfatwa dan mengajar ala mazhab Imam Syafi’i, kemudian ijazah untuk mengarang dan menyusun kitab. Maka dengan itu semua, aku mulai menulis kitab-kitab matan dan kitab-kitab syarah dengan narasi yang cukup baik, sehingga tidak membutuhkan kata-kata panjang untuk manyanjungnya dan bahkan tidak perlu dibuat syarah lanjutan untuk menginformasikan isinya. Dan semua itu adalah di saat umurku belum genap 20 tahun.” (Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdillah at-Tarmasi, Hasyiyah at-Tarmasi: Dar al-Minhaj juz 1 , halaman 23).
Karya-karya yang hasilkan Ibn Hajar sebagai bentuk khidmat terhadap ilmu kurang lebih berjumlah 101 kitab sebagaimana disebutkan dalam kitab Nafais ad-Durar fi Tarjamati Syaikh al-Islam Ibn Hajar karya Syaikh Abu Bakr bin Muhammad bin Abdillah Ba ‘Amr as-Saifi halaman 45. Di antara karya-karyanya, ada beberapa karya yang sangat popular, yaitu kitab Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, kitab al-I’ab Syarh al-Ubab dan kitab az-Zawajir ‘an Iqtirafi al-Kabaair.

Tentu tulisan ini tidak akan memuat secara keseluruhan karya-karyanya. Menjelang akhir hayatnya, Imam Ibn Hajar al-Haitami memfokuskan dirinya dalam mengajar di Makkah al-Mukarromah. Pada hari Senin, 23 Rajab 974 H, Ibn Hajar meninggal dunia dan disalatkan di Masjid al-Haram Mekkah di bawah pintu Kakbah, kemudian dimakamkan di komplek pemakaman al-Ma’la di samping sahabat Abdullah bin Zubair.
Tsabat dan Sanad Keilmuan
Sanad merupakan ciri khas tradisi keilmuan Islam. Dengan adanya sanad, maka bangunan keilmuan Islam bisa menjadi kokoh serta dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdillah at-Tarmasi/at-Turmusi dalam kitabnya Kifayah al-Mustafid li Ma ‘Alaa min al-Asanid halaman 5 mengutip perkataan sebagian ulama’ salaf tentang sanad sebagaimana berikut:
إن الإسناد له كالسيف للمقاتل فإذا لم يكن له سيف فبأي شيء يقاتل
“Sesungguhnya sanad baginya (pelajar/penuntut ilmu) bagaikan pedang bagi orang yang berperang, bilamana ia tidak memiliki pedang, maka dengan apakah ia akan berperang?”
Pentingnya sanad dalam tradisi keilmuan Islam bukan tanpa sebab. Sanad bukan hanya berkaitan dengan penyebutan suatu riwayat dari mana riwayat itu didapat, melainkan juga merupakan bentuk jaminan bahwa suatu riwayat atau transmisi dapat dibenarkan dan diterima keberadaanya. Sehingga, seseorang tidak serta merta berbicara dan berdalil dengan semaunya sendiri. Karena itu, kitab yang bertajuk Tsabat yang memiliki posisi penting dalam sanad keilmuan Islam.
Syaikh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani —selaku yang menta’liq dan mentashih kitab Kifayah al-Mustafid li Ma ‘Alaa min al-Asanid— memberikan sebuah catatan kaki dalam kitab Kifayah al-Mustafid li Ma ‘Alaa min al-Asanid halaman 6 pada kata al-Atsbat. Dalam catatan kaki tersebut, disinggung sedikit tentang istilah tsabat, berikut ibarohnya:
جمع ثبت بفتحتين وهو اصطلاحا اسم للكتاب الذي يجمع المحدث فيه أسماء شيوخه ومروياته عنهم، كأنه مأخوذ من الثبت بسكون الموحدة وهو الحجة، فهذا الكتاب كالحجة له لأن فيه ذكر مشائخه وأسانيده من طريقهم، وهذا الاسم يستعمله غالبا أهل المشرق وأما أهل المغرب فيسمونه الفهرس
“al-Atsbat adalah bentuk jamak dari kata tsabat. Tsabat secara istilah adalah nama bagi sebuah kitab yang ditulis oleh seorang muhaddits yang mengumpulkan nama guru-guru dan riwayat-riwayatnya dari pada guru-guru tersebut. Seakan-akan kata tsabat ini diambil dari kata tsabt (ba’nya disukunkan) yang bermakna hujjah (argumentasi). Maka kitab ini seolahi menjadi sebuah argumentasi baginya, karena di dalam kitab tersebut disebutkan guru-guru dan sanad-sanadnya dari jalur mereka. Tsabat ini merupakan istilah yang biasa digunakan ulama Masyriq, sedangkan ulama’ Maghrib menggunakan istilah al-Fihris”
