Tuhan, Kopi, dan Rokok

Sementara, ceramah pagi sering kali mematikan semangat bertanya ini dengan jawaban instan: “Karena sudah ada aturannya dalam kitab.” Tetapi filsafat justru menghidupkan keberanian untuk bertanya ulang, bahkan jika itu menyakitkan.

Michel Foucault menyebut praktik ini sebagai parrhesia —keberanian berkata benar di hadapan kekuasaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam konteks santri, keberanian itu berarti berani menanyakan ulang apakah benar kopi dan rokok hanya dilihat dari kacamata halal-haram semata. Bukankah ada makna sosial, kultural, bahkan ontologis yang lebih dalam? Bukankah kopi juga mengandung nilai persahabatan, musyawarah, bahkan resistensi terhadap homogenisasi budaya global?

Dialektika Spiritualitas

Tidak bisa dimungkiri, kopi dan rokok juga punya dimensi transendental. Dalam pandangan sufi, keduanya menjadi medium yang mengantarkan manusia pada perenungan spiritual. Secangkir kopi di waktu malam bisa menjadi pengusir kantuk dalam wirid panjang. Sebatang rokok bisa menjadi “pengiring rasa” ketika seorang santri merenungi bait-bait hikmah Imam al-Haddad atau memikirkan tafsir kehidupan.

Filsafat memberi kita bahasa untuk memahami dimensi ini tanpa harus terjebak pada moralitas sempit. Dialektika Hegel mengajarkan bahwa setiap fenomena selalu bergerak dalam ketegangan antara tesis dan antitesis, lalu melahirkan sintesis baru.

Kopi dan rokok bisa dipandang sebagai tesis kenikmatan duniawi, sementara ceramah pagi mungkin mewakili antitesis berupa larangan normatif. Tetapi dalam dialektika, keduanya bisa bertemu dalam sintesis yang lebih tinggi: kesadaran bahwa manusia hidup di ruang paradoks, di mana kenikmatan dunia justru bisa menjadi jalan menuju keheningan spiritual.

Filsafat dan Kejujuran 

Kejujuran filsafat terletak pada keberaniannya menyingkap realitas tanpa tabir. Ia tidak membungkus fakta dengan jargon normatif, tidak pula menakut-nakuti dengan retorika dosa. Filsafat tahu bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kontradiksi: bisa merokok sambil mengaji, bisa menyeruput kopi sambil berzikir. Kejujuran ini membuat filsafat lebih dekat dengan realitas ketimbang ceramah pagi yang sering kali sekadar mengulang kata-kata tanpa pengalaman hidup yang nyata.

Nietzsche, dengan lantang, pernah mengkritik moralitas tradisional sebagai bentuk kebohongan kolektif. Ia mengajak manusia untuk berani menciptakan nilai baru melalui semangat will to power. Dalam konteks ini, mungkin benar bahwa filsafat lebih jujur daripada ceramah pagi: ia tidak menutupi paradoks hidup, tetapi justru merayakannya sebagai sumber kekuatan.

Tinggalkan Balasan