“Mengapa Ning Udah bawa dia ke sini?”
“Aku tak tega. Dia terus menanyakanmu sejak pagi tadi, saat dia terbangun dan kau tak ada di sisinya,” balasnya.

“Apa kau sudah makan, sayang?”
“Sudah. Ning Udah membelikanku soto,” balasnya dan kau menatap perempuan paro baya itu mengucap terima kasih.
Anakmu berada dalam dekapan ibunya. Dia memandangmu melalui jendela. Selang-selang menancap di dada dan lenganmu. Balutan perban yang hampir menutupi wajahmu membuat dia bergidik dan hampir tak mengenal wajah di baliknya. Lalu lalang orang di rumah sakit memperhatikan mereka, sekilas. Sekarang jam sembilan malam. Sudah sehari dia menunggumu setelah mendengar berita kecelakaan malam Jumat itu. Ada penyesalan yang menancap di dadanya. Dada seorang perempuan yang telah lama menanggung sesak. Seandainya malam itu dia mampu mencegahmu, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi.
“Sekarang kamu makan, sana. Biar aku yang jaga anak dan suamimu,” pinta Ning Udah.
Istrimu berseloroh. Badannya pegal-pegal. Matanya cekung dan merah. Dia menolak. Ning Udah memaksa. Dia bangkit, berjalan lesu menyusuri koridor rumah sakit. Dia berjalan bukan menuju warung makan atau bakso yang berjejer di depan. Dia menuju musala, mengambil wudhu dan melakukan salat. Pada sujud terakhir, dia memperpanjang sujudnya. Doa-doa untuk keselamatanmu dia rapal. Setelahnya, dia berzikir dan menengadahkan tangan ke langit.
Dalam setiap kedipan mata, namamu selalu disebut dan menepis segala perbuatan kurang ajar yang kau lakukan padanya. Sebagai seorang istri, dia membentengi diri dengan istighfar dan terus meneguhkan hati. Kau memang berlaku bejat padanya, tapi yang dia mau adalah surga. Surga di bawah kaki seorang bedebah yang dia panggil suami. Dia terisak. Jarum jam berdetak seirama jantungnya dan memutar kembali peristiwa malam Jumat itu.
***
Beberapa hari setelah kedatangan anak buah Djaja, kau kembali malam Jumat itu dan bertengkar dengan Rasih. Anehnya, setiap kali pertengkaran itu terjadi, anakmu selalu tidak ada di rumah. Hari itu istrimu mengantarnya ke rumah kakeknya. Istrimu hapal kapan kau pergi dan kapan kau akan kembali. Seolah sekembalimu ke rumah adalah neraka baginya.
Dan malam yang kutunggu tiba. Lama aku menantinya dari langit-langit sudut kamarmu setelah beberapa hari puasa dan terus merapal doa-doa. Aku menikmati pertengkaran kalian. Karena beberapa jam lagi, aku yakin kau akan pergi setelah menamparnya. Aku mencari waktu yang pas untuk menjamah kepalamu. Pertengkaran kalian memuncak.
“Apa kau sudah gila?”
“Ya. Semua itu karenamu.”
Dia menggeleng. Berbulir-bulir air mata jatuh dari kelopaknya, mengalir di pipi dan bermuara ke ceruk dada. Aku terus mengintai kalian. Tawaku buncah dan tidak ada satu pun yang mendengarnya.
“Mas, kumohon, tatap mata anak kita. Masa depannya masih panjang.”
“Cukup. Jangan ceramahi aku.”
