Kamu mencari-cari sesuatu di laci. Istrimu sesenggukan di tubir kasur. Dalam situasi seperti ini, dia rela berpisah denganmu. Selama ini, tubuh ringkihnya bertahan demi anakmu dan kau tidak peduli.
“Mana sertifikat sawahku?”

Mendengarnya, dadanya bergolak. Sertifikat sawah itu warisan ibunya. Tidak ada setetes pun keringatmu di sana.
“Untuk apa? Sertifikat rumah ini telah kau gadai dan sekarang kau meminta sertifikat sawah?”
“Jangan membantah! Berikan padaku!!”
Dia mendelik, tapi tak kau hirau dan terus mencarinya. Lalu, di bawah kolong lemari kau temukan sesuatu berbungkus kain. Dia ingin merebutnya, tapi kau mendorongnya hingga dia terjengkang ke lantai. Kau mengeluarkan benda itu; gelang rantai dan kalung berliontin ikan. Perhiasan itu selamat dari jarahan anak buah Djaja dan dia menyembunyikannya di kolong lemari. Sekarang, tinggal menunggu waktu perhiasan itu dirampas olehmu. Dia pasrah.
“Mas, jangan ambil perhiasan itu!”
“Diam!!”
“Mas…!”
Istrimu bungkam. Tangan kekarmu mendarat keras di pipinya. Telinganya berdenging. Kau masukkan benda itu ke dalam saku mantel kulit yang kau kenakan. Kau memberi peringatan padanya. Dia menunduk. Setelahnya kau membanting apa pun yang bisa kau raih. Sebenarnya, aku merasa kasihan padanya. Kalian selalu bertengkar dan setiap pertengkaran suami-istri tentu dapat ditebak siapa yang akan jadi korbannya. Aku pun bersiap-siap di atas pintu saat melihatmu beranjak ke luar. Sebelum itu terjadi, kau memperingatiya sekali lagi.
“Ingat, kau. Sekarang aku muak tinggal denganmu. Persetan dengan Djaja dan anak buahnya. Kau juga telah kujadikan jaminan beserta rumah ini atas utang-utangku.”
Punggung istrimu berguncang hebat. Air matanya mengalir deras. Menguras jiwa. Kau melangkah ke luar. Tepat di ambang pintu, kau berdiri, mengambil pecahan vas bunga yang menancap di sepatumu yang bergerigi. Aku melompat, tepat di atas kepalamu. Aku menari-nari sembari merapal doa. Kujamah rambutmu dengan kaki-kakiku secepat yang kubisa. Sontak, kamu mengatupkan gigi lalu meraih tubuhku dan membantingnya ke lantai. Kau melumat tubuhku hingga tak bersisa. Kau keluar. Istrimu mengingatkan.
“Mas, kenapa kau…”
“Diam atau kusobek mulutmu!!”
Beberapa jenak kemudian, terdengar deru mesin meninggalkan halaman. Di balik kemudi, pikiranmu bekecamuk dan teringat pesan tetua dulu. Pamali jika ada cicak jatuh ke kepala pada malam Jumat.
04/08/2020.
