Ukhuwah Islamiyah, untuk Siapa?

Bisa jadi ungkapan itu telah mengalami degradasi pemaknaan sedemikian rupa. Tetapi juga tak mustahil jika ungkapan itu sendiri memang muncul dalam setting politik tertentu dan untuk kepentingan politik tertentu pula. Persis seperti konsep Khilafah Islamiyah yang muncul di akhir masa Abbasiyah atau Daulah Islamiyah yang terbit setelah kaum muslim menderita kekalahan dari Turki Utsmani di awal abad 20. Seperti halnya ukhuwah Islamiyah yang memeroleh legitimasi teologis sebagai pembangkit semangat eksklusif, kedua ungkapan dan konsep yang terakhir itupun hingga sekarang sangat diyakini sebagai kebenaran negara Islam.

Tidak berlebihan, justru ukhuwah Islamiyah seperti yang diungkap Kiai Wahab di awal tulisan ini sangat relevan ketika sekat-sekat kehidupan manusia seperti sekarang ini menjadi semakin menipis dan batas-batasnya terlintasi. Kehidupan plural dan semakin menguatnya kenyataan multikultural di semua wilayah geografis menantang Islam – dan kita kaum muslim – untuk bukan saja menjawab persoalan-persoalan konseptual dan praksis ekonomi maupun politik, tetapi juga pergaulan antarsesama yang lebih manusiawi. Cara bergaul kaum muslim yang bermatra rahmat demi manusia dan kemanusiaan seperti yang dimengerti dari ukhuwah Islamiyah di atas merupakan kemestian apabila Islam dikehendaki tetap eksis sebagai rahmat lil alamin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Multikultural dan pluralisme memang dianggap mengancam, merobek, dan memudarkan kemurnian dan keaslian Islam, paling tidak oleh sebagian kaum muslim. Tetapi, apakah demi kemurnian dan keaslian yang sepenuhnya imajiner itu, kita lalu mengorbankan kerahmatan termasuk dengan tetap mempertahankan ukhuwah Islamiyah sebagai pembangkit semangat eksklusif dan menyerukannya setiap saat? Ada baiknya kita renungkan kembali tafsir dan tesis Kiai Wahab tersebut.

Tinggalkan Balasan