ULANG TAHUN DI MUSIM AIR

ULANG TAHUN DI MUSIM AIR

Hari ini aku genap dua puluh lima
dan sungai -yang mestinya hanya memahami arus-
datang menyeret kursi ke ruang tamu,
menyisakan ingatan tentang kota-kota
yang dibangun dengan doa pada beton,
bukan pada pepohonan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Genap dua puluh lima,
sementara Sumatera kembali belajar berenang
di rumah-rumah tanpa pelampung,
di halaman yang dipagari janji kampanye
serupa paying bocor: terbuka

Air naik,
Seperti harga beras, seperti intensitas hujan,
Seperti jumlah spanduk “siap menanggulangi bencana”
yang berjejer rapih di jalanan,
sementara lumpur mengajari kami
cara membaca kebijakan tanpa huruf!

Dua puluh lima tahun usia,
dan aku masih menyadari;
yang paling deras bukan hujan,
tetapi aliran dana proyek normalisasi sungai
yang berhenti pada tanda tangan,
bukan pada tubuh sungai.

Umur terus bertambah,
Tapi, apa artinya?
bila hutan kehilangan hari ulang tahunnya,
sungai kehilangan tempat berbaringnya,
dan manusia kehilangan malu saat menyalahkan awan
atas karma dari akar yang dicabut demi pembangunan.

Pada lilin yang menyala, aku berdoa:
semoga tahun depan tak ada lagi
anak-anak meniup usia dengan iringan derit
perahu karet, dan semoga air kelak hanya
membanjiri rupa puisi.

CINTA YANG LAPAR

Ketika kau mendengar senandung dari toa masjid,
dan iklan sirup Marjan yang saling bersahutan,
di tengah rapat anggota dewan yang ngantuk dan kenyang.
Itulah harmoni negeri ini, di mana doa dan diskon
sama-sama menyanyikan surga.

Aku mencintaimu,
Seperti rakyat yang mencintai beras murah:
Penuh harap dan tanpa pilihan.
Kau seperti janji kampanye:
harum saat pagi, tapi busuk saat senja.
Sedangkan rakyat gemetaran memerah keringat
dengan senyum yang dipinjamkan -itupun kena bunga.
Sementara perutnya serupa jalanan Jakarta.

Kata orang,

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan