ULANG TAHUN DI MUSIM AIR

Aku hendak menulis puisi
tentang cinta,
tentang luka,
tentang politik dan harga sepiring nasi—
tapi semua sudah terlalu sering ditulis
oleh orang-orang yang lebih putus asa dariku.

Kata “rindu” sudah pasaran
kata “sunyi” sudah pensiun dini
kata “kau” terlalu fleksibel untuk merujuk
pada kekasih, Tuhan, bahkan algoritma.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka kubuka jendela
mencari inspirasi di udara pagi.
Yang kutemukan hanya klakson,
lengking jerit tukang sayur,
dan status whatsapp tetangga yang mengutip
hadis dengan salah.

Aku ingin menulis puisi
tapi kepalaku berdemo menggugat niatku;
“puisi tak dapat menambal dompet bolong”

Lalu aku merenung,
mungkin puisi memang tidak harus ditulis,
seperti lapar yang tak perlu dijelaskan pada perut

Tapi lihatlah,
di antara tanda baca yang berantakan ini
di tengah keraguan pada kalimat yang tak kunjung
berkembang, puisiku justru lahir—
bersama kegagalan itu sendiri.

SAJAK PEMBELAAN

Demi gengsi memapankan ketakutan,
demi dogma memangkrakan pikiran.
Kau sodorkan kepatuhan di meja makan,
dan kini kami kenyang akan kebodohan!
Kami hendak bertanya di malam buta,
saat pedar lampu kokoh di atas buku terbuka,
berkisah tentang ‘encokmu’ yang melegenda,
namun mengapa hidup kami tak sampai cahaya?

Kami menatap bintang tanpa cita-cita,
memikul harap di bawah rajaman mentari,
berteman kecewa dan mandi air mata,
sedangkan matamu terus saja lari!

Barangkali, kami ini piaraanmu:
mengunyah tuntutanmu,
mengukuhkan kebenaranmu,
dan menagngguk-angguk
bagai perkutut di dalam sangkar.

Kami tak punya kesempatan menata kata,
tak punya ruh atas kendali tubuh sendiri-
hingga terpaksa kami simpulkan bahwa:
“Harapan adalah kunang-kunang di dahan mimpi”

Tinggalkan Balasan