Martin C Wright mengkonfirmasi jika pseudo tolerance terjadi karena subjektivitas masyarakat dalam memahami sesuatu. Mereka menganggap satu hal sebagai kebenaran yang mutlak, lalu menihilkan hal lain di luarnya. Terjadilah chaos yang merembet pada rusaknya kerukunan sosial. Superioritas membawa masyarakat pada sifat egoisitas yang lebih tinggi. Muncul keinginan untuk membuktikan bahwa ajaran atau kelompok yang dianut sebagai yang paling benar, dengan mencercar dan mencaci keyakinan lain.
Oleh kelompok radikal, perayaan Natal sering dianggap sebagai ancaman, karena menyebarkan sesuatu di luar keyakinan yang mereka anut. Pengeboman Malam Natal tahun 2000 merupakan satu contoh bagaimana superioritas tersebut mampu membunuh ribuan nyawa yang tidak berdosa. Perayaan Natal yang seharusnya disambut gembira oleh umat Kristiani, malah berbuah luka dan menghilangkan ribuan nyawa. Jelas sikap tersebut telah menghilangkan pokok-pokok kebangsaan, yang menjamin seseorang untuk memeluk agama sesuai keyakinannya.

Inilah landasan pemikiran yang harus diperangi untuk menegakkan tinggi-tinggi bendera toleransi di negeri ini. Pemikiran merasa yang paling benar atau menganggap keyakinan lain sebagai ancaman adalah modal dasar untuk menghancurkan negeri ini dari dalam. Revolusi pemikiran perlu dilakukan, untuk mengurangi segenap upaya ataupun perbuatan yang mengancam umat lain untuk melakukan peribadatan.
Toleransi Umar
Kitab Tarikh karya Ibnu Khaldun menceritakan secara detail bagaimana teladan toleransi yang dibangun oleh Umar bin Khattab kepada umat Kristiani. Dikisahkan bahwa saat Umar bin Khattab memasuki Baitul Maqdis, beliau menemui pemuka agama Kristen Patriarch Sophronious di Gereja Qiyamah. Umar bin Khattab ingin melakukan perjanjian damai dan menyerahkan kunci Yerussalem kepada Patriarch Sophronious.
