Karena itulah, dalam Islam sesungguhnya tidak ada orang, kelompok orang, atau institusi yang secara legitimate merupakan representasi dan mewakili keberadaan umat dalam pengertiannya yang menyeluruh; seluruh umat Islam. Kalau sekarang, misalnya, ada orang, atau sekelompok orang, atau institusi apa pun, berseru “kami umat Islam” atau “atas nama umat Islam”, pasti yang dirujuk sebenarnya adalah dirinya sendiri dan anggota kelompoknya.
Lihatlah, misalnya, apa yang ditradisikan oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Sejak dari awal, NU tak pernah berpretensi menjadi representasi dan mewakili umat Islam secara keseluruhan. Karena itu, anggota NU disebut nahdliyin, merujuk pada anggota atau jamaah NU. Begitu juga dengan Muhammadiyah, yang anggotanya disebut jamaah Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah, ketika mengeluarkan seruan, pasti untuk dan atas nama warga nadhliyin atau jamaah Muhammadiyah. Tak pernah mengatasnamakan umat Islam seluruh Indonesia, atau bahkan dunia.

Apa yang ditradisikan NU dan Muhammadiyah membuktikan bahwa memang tidak ada sistem dan mekanisme representasi keumatan dalam Islam. Eksistensi umat benar-benar cair. Begitu bersyahadat, kita telah menjadi bagian dari umat. Tapi itu tak mambuat kita punya hak untuk berbicara atas nama umat dan menjadi representasinya. Maka, jika akhir-akhir ini banyak orang, atau sekelompok orang, sering berbicara atas nama umat dan mengaku-ngaku mewakili umat, kalau bukan karena kesombongan ya pasti kebohongan.
Mungkin, jika bisa disebut demikian, satu-satunya representasi umat Islam sebagai ummatul wahidah adalah pemandangan ketika jutaan orang melepas semua atributnya dan kemudian mengelilingi Kakbah di bulan haji.
