Sebagai wartawan yang pernah tinggal di Bali lebih dari sepuluh tahun, tentu sebagian dari lingkungan pertemenan saya adalah orang-orang yang telah lama mengenal Umbu, dan banyak bercerita tentang dirinya. Satu di antara kawan saya adalah Ketut Syahruwardi Abbas, orang Bali Pegayaman dan pekerja seni. Diam-diam dia tahu saya sering juga menulis puisi untuk dibaca-baca sendiri. Diam-diam dia suka membaca-baca puisi saya.
Suatu hari, mungkin tahun 2003 atau 2004, Ketut Syahruwardi Abbas mengajak saya bertemu Umbu. Konon, tidak gampang, atau sebenarnya gampang-gampang susah, orang bisa bertemu Umbu. Sebab, Umbu selalu menyimpan sendiri misterinya. Tapi Ketut Syahruwardi Abbas tak kurang akal. Sabtu malam, atau malam Minggu, saya diajak ke kantor redaksi Bali Post. Menunggu Umbu.

Saat itu, Umbu adalah redaktur sastra untuk Bali Post. Seperti koran pada umumnya, Rubrik Sastra Bali Post juga terbit hari Minggu. Dengan begitu, tiap malam Minggu Umbu sering ngantor untuk menyeleksi atau mengkurasi puisi-puisi yang akan dimuat esok harinya.
Inilah keberuntungan saya. Belum lama menunggu, Umbu muncul. Ketut Syahruwardi Abbas yang sudah lama mengenal Umbu kemudian memperkenalkan saya kepadanya. Plus, menyodorkan beberapa lembar kertas cetakan puisi saya. Umbu membaca semua puisi itu, lalu tersenyum sambil berucap, “Nah, ini saya suka. Harus sering menulis seperti ini.”
Tak lama kami berpamitan. Esok harinya, tiga puisi saya muncul di Bali Post. Namun, ada yang membuat saya terkejut dan bertanya-tanya. Sebab, ada yang berubah dengan nama saya sebagai penulisnya. Saat saya menyerahkan lembaran puisi-puisi itu, nama saya sebagai penulisnya sama persis dengan KTP: Mukhlisin. Namun, ketika puisi itu muncul di koran Bali Post, nama penulisnya berubah menjadi Mukhlisin HM.
