Malam minggu berikutnya, sembari membawa puisi-puisi baru, saya bersama Ketut Syahruwardi Abbas kembali menunggu Umbu di kantor redaksi Bali Post. Untuk kedua kalinya kami bertemu. Di kesempatan itu kami menanyakan kenapa ditambah HM di belakang nama saya? Apa maksudnya? Apa artinya?
Sambil senyum-senyum, Umbu memberi jawaban yang sampai saat ini masih menjadi misteri. “Kalau MH (baca: Emha. Mungkin maksudnya Emha Ainun Nadjib) kan sudah ada. Yang belum ada kan HM (baca: Haem). Jadi saya tambahi saja HM.”

Kami bertiga serentak tertawa terbahak. Dan kemudian saya tak mempermasalahkan tambahan HM di belakang nama saya itu. Sejak itu, hampir tiap Minggu tulisan saya dimuat di Bali Post, entah puisi atau prosa liris —yang menjadi kesukaan Umbu. Namun itu tak berlangsung lama. Tahun 2005 saya pindah ke Jakarta. Tak ada lagi puisi. Dan saya tak pernah lagi memakai “HM” di belakang nama saya.
Pagi ini, ketika saya membaca berita Umbu pergi, saya kembali teringat “HM” yang ia sematkan di belakang nama saya. Dua huruf yang serasa seperti puisi. Tapi ketika mengingatnya, saya juga merasa berutang puisi.
Umbu memang telah pergi. Tapi puisinya tak pernah mati.
