Urgensi Afiliasi dalam Beragama

Paradoks yang mereka bangun ini akhirnya menjerumuskan mereka pada inkonsistensi nalar pikir dan mudahnya diombang-ambing ke sana-ke mari. Karena mereka tidak punya pegangan, mereka tidak punya rumah untuk pulang. Tapi yang lebih bahaya lagi adalah mereka merasa paling dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Mereka merasa tidak membutuhkan ulama sebagai “mediator” antara mereka dan kalam-Nya.

Dengan berafiliasi pada ormas tertentu, manusia akan dipertemukan dengan orang-orang yang satu segmentasi dengannya, dengan orang-orang yang punya impian yang sama, sehingga mereka akan saling bantu untuk mewujudkan mimpinya, setidaknya untuk tidak saling menjatuhkan atau menghalangi jalan sesamanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Afiliasi identik dengan taqlid. Orang yang punya afiliasi agama akan menjalani kehidupan agama yang lebih aman dan terpercaya. Sebab mereka memiliki orang-orang yang bisa dipercaya secara penuh untuk urusan agama. Taqlid berarti menentukan jalan, ke arah mana dan rute mana yang harus kita tempuh. Sedangkan, orang-orang non-afiliatif akan lebih rentan tersesat dalam perjalanan mereka.

Bahauddin Nursalim, atau yang kita kenal dengan nama Gus Baha’, dalam sebuah forum pengajian pernah bercerita, bahwa suatu hari ia pernah ditanya oleh seseorang. “Gus, Anda ini kan cerdas dan pintar, kenapa masih ikut NU?”

Gus Baha’ pun menjawab, “Justru karena itu saya ikut NU.” Mengapa demikian? Karena semakin luas wawasan dan pengetahuan seseorang, ia akan makin mudah menemukan jati dirinya, dan segera bergabung dengan orang-orang yang punya satu segmen dengan dirinya.

Tinggalkan Balasan