Adzan subuh telah berkumandang, menyeru seluruh umat Islam untuk mendirikan salat. Suasana di salah satu pesantren di Jombang masih sangat tenang, belum banyak santri yang terbangun.
“Mbak-mbak, ayo bangun sudah subuh. Mari jamaah sama Umi!”

Seruan itu seakan menyentak hati Niswa, salah satu santri putri di Pesantren Ar-Rahman Jombang. Niswa langsung bangun dan merapikan peralatan tidurnya, kemudian dia pergi ke belakang untuk mengambil air wudhlu lalu salat berjamaah.
Selesai salat jamaah dan membaca surat Yaasin, Niswa dan santri lainnya bersiap untuk pergi ke kampus. Niswa mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di sana. Dia merupakan siswi yang berprestasi, pendiam, dan ramah, serta tidak sombong. Niswa adalah santri yang baik dan patuh serta cerdas. Dia selalu mengikuti kegiatan di kampus maupun di pesantren dengan tertib dan baik.
Suatu hari saat mengaji Diniyah, ada seorang ustadz baru yang mengajar Nahwu. Dia menggantikan posisi Ustadz Alim untuk sementara waktu karena Ustadz Alim masih ada acara KKN sebulan ini. Ustadz baru itu bernama Amar. Dia pendiam dan baik serta ramah, dan ternyata masih satu kampus dengan Niswa. Dia adalah kakak kelasnya.
Banyak santri putri yang langsung jatuh hati ketika melihatnya. Ya, dia memang ganteng dan keren, tinggi dan saleh.
“Hari ini semuanya nggak konsen waktu ngaji, soalnya ada ustadz ganteng itu, Nis!” ucap Najwa, salah satu teman Niswa saat mereka sampai di dalam kamar.
“Ah nggak semuanya kok, aku aja konsen sampai akhir tadi!” jawab Niswa santai.
“Iya, kamu konsen mandangin wajah gantengnya itu! Nggak merhatiin pelajarannya,” jawab Najwa dengan sinis.
“Yeee, emangnya kamu. Haram kali mandangin wajahnya terus. Lagian Ustadz Amar itu masih senior kita di kampus,” sahut Niswa seakan menceramahi Najwa.
“Makanya itu Nis, aku langsung jatuh hati sama Ustadz Amar. Kamu nggak sadar ya kalau pesonanya itu udah menghipnotis semua santri di sini. Kalau dia yang ngajar sih, aku mau masuk terus pas waktu Diniyah,” timpal Najwa sambil tersenyum.
Niswa menggelengkan kepalanya sambil memandang Najwa yang sedari tadi menceritakan kebaikan Ustadz Amar. Niswa menepuk pundak Najwa dan berkata, “Najwa, nggak boleh kayak gitu. Kalau ngaji niat kamu cuma mau ketemu sama Ustadz Amar, itu nggak akan barokah ilmunya, dan lagi kamu nggak akan dapat pahala.”
“Nis, coba deh kamu amati wajahnya Ustadz Amar, pasti hati kamu langsung sejuk deh, tenang. Pokoknya tentram deh! coba aja,” jawab Najwa.
“Males ah, dosa lagi!” sahut Niswa santai.
“Ya udah kalau nggak mau. Biar aku sendiri aja!”
“Dibilangin malah ngeyel. Udahlah, ayo tidur, ngantuk aku!” kata Niswa sambil bersiap untuk tidur.
***
Keesokan harinya Niswa datang di kampusnya. Tak sengaja, ia menabrak seseorang karena orang itu terburu-buru.
“Maaf mbak. Saya gak sengaja!” ucap orang misterius itu sambil membantu merapikan buku Niswa yang jatuh berantakan.
“Iya, gak papa kak santai aja. Makasih ya udah bantuin,” sahut Niswa sambil melihat orang itu. Dan betapa terkejutnya Niswa ketika tahu siapa orang yang menabraknya tadi.
“Ustadz Amar?!” seru Niswa kaget dan heran.
“Lho, kamu! kamu yang…”
“Iya Ustadz, saya santri Ar-Rahman, murid dalam pelajaran Nahwu,” sahut Niswa sebelum Ustadz Amar menyelesaikan perkataannya.
“Oh iya-iya, saya ingat. Siapa nama kamu?” tanya Ustadz Amar sambil tersenyum heran namun menatap Niswa dengan tajam.
“Niswa, Ustadz!” jawab Niswa dengan senyum ramah.
Ustadz Amar tersenyum mendengar jawaban Niswa.
“Ada apa Ustadz?” tanya Niswa keheranan.
“Kamu itu dari tadi panggil saya ustadz. Padahal sekarang ini kita sedang ada di kampus.”
“Lalu?”
“Panggil kakak saja tidak apa. Kalau lagi ngajar, baru panggil ustadz,” jawab Ustadz Amar menjelaskan.
