Ustadz di Antara Nisma dan Najwa

“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu kak! Assalamu’alaikum,” ucap Niswa sambil tersenyum dan berlalu pergi.

“Wa’alaikumussalam, Subhanallah.. ..”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

“Nis, tadi kamu ngapain sama Ustadz Amar?” tanya Najwa yang ternyata melihat kejadian itu. Kemudian Niswa menceritakan apa yang terjadi antara Ustadz Amar dengannya.

“Ya Allah, Nis. Ustadz Amar tanya nama kamu? Aku jadi iri. Yang suka aku kok yang ditanya kamu!” kata Najwa sambil merengut.

“Sudahlah Najwa, jangan iri itu gitu. Emangnya kamu lupa kalau iri itu penyakit hati?”

“Jangan-jangan, Ustadz Amar suka sama kamu lagi!” kata Najwa.

“Ya, ya gak mungkinlah! Emang atas dasar apa Ustadz Amar suka sama aku?”

“Kamu kan cantik, saleha lagi! Lelaki mana yang tidak suka sama wanita kayak gitu?”

Niswa terdiam sesaat mendengar jawaban Najwa yang seakan menusuk hatinya.

“Tapi, kan, dia jauh lebih baik dari aku Naj”

Tanpa menjawab Niswa, Najwa bergegas pergi meninggalkan Niswa di dalam keheningannya.

“Najwa, mau ke mana kamu?” panggil Niswa. Namun Najwa sama sekali tak menghiraukan panggilan temannya itu.

***

Saat Madin dimulai, Niswa telah siap duduk di bangku paling depan. Dan hari ini adalah giliran ustadz Amar mengajar. Namun ada yang aneh dengan Najwa hari ini, dia tidak nampak semangat dan biasanya dia duduk di bangku yang paling depan, tepatnya di samping Niswa, namun tidak dengan hari ini. Dia tampak menjauhi Niswa dan kini Niswa duduk seorang diri.

“Niswa, kok kamu duduk sendirian?” tanya Ustadz Amar.

“Iya, Ustadz,” jawab Niswa sedikit terkejut dan tertunduk lesu.

“Lho, ke mana teman kamu yang biasanya duduk di samping kamu itu?” tanya Ustadz Amar kembali.

“Emang kenapa kalau Niswa sendirian? Ustadz mau temenin ?” sahut Najwa seakan menyindir Niswa. Ustadz Amar tak menjawab, namun ia hanya tersenyum tipis sembari memandang Niswa.

Selesai Madin, Niswa mencoba bicara kepada Najwa. Namun Najwa selalu menghindari Niswa, hingga akhirnya Niswa dapat menahan langkah Najwa.

“Naj, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku gara-gara Ustadz Amar. Iya?” tanya Niswa. Najwa tampak memalingkan wajahnya dari Niswa, dan tak menjawab pertanyaan Niswa. Dia hanya terdiam, bahkan memandang wajah Niswa pun seakan enggan.

“Naj, kamu lupa kalau kita itu sahabat? Dan cuma gara-gara seorang lelaki saja kita bisa terpecah belah kayak gini? Ingat janji kita dulu, ‘akan selalu bersama dalam keadaan apa pun!’ Kalau kamu suka sama Ustadz Amar, ok dia buat kamu. Tapi, kenapa kamu harus marah? Kita kan bisa omongin ini baik-baik,” kata Niswa sesaat kemudian.

“Aku nggak permasalahin soal Ustadz Amar atau perasaan aku ke dia, Nis!” jawab Najwa dingin. “Masalahnya cintaku bertepuk sebelah tangan, Nis! Asal kamu tahu ya, Nis, Ustadz Amar itu suka sama kamu. Dan aku udah tahu sejak pertama kali kalian berkenalan,”  kata Najwa sambil terisak menangis.

Seketika itu Niswa terkejut mendengar penjelasan dari sahabatnya itu. “Darimana kamu tahu, Naj? Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu?” tanya Niswa lirih.  Dan kini, air mata pun mulai membasahi kelopak mata Niswa.

“Aku aja tahu dari pandangan mata Ustadz Amar ke kamu Nis, dan cara dia perlakuin kamu juga beda dari muridnya yang lain,” sahut Najwa yang semakin membuat dada Niswa sesak mendengarnya.

Penjelasan tadi seakan menghentikan bibir Niswa untuk terus menjawab. Niswa hanya terdiam, dan hanya ada suara isak tangis di tengah keheningan antara Niswa dan Najwa.

“Aku udah ikhlasin Ustadz Amar buat kamu, Nis. Lagian dia juga lebih cocok sama kamu. Dan buat apa aku maksain kehendak? Kalau emang kenyataannya dia nggak suka sama aku, mau dipaksa kayak apa pun perasaannya akan tetap ke kamu, Nis!” ucap Najwa mencoba meyakinkan sahabatnya.

“Ngomong apa kamu, Najwa? Kamu harus perjuangin cinta kamu. Aku janji akan bantu kamu!” jawab Niswa mencoba meyakinkan Najwa.

“Aku sudah lelah, Nis. Ibaratnya aku ngejar layangan yang sudah putus. Walau kemana pun tak akan di dapat. Karena layangan itu mengikuti arus angin yang membawanya. Aku merestui kalian, karena dia adalah jodohmu,” jawab Najwa pasrah.

“Jodoh ada di tangan Allah, Najwa. Aku yang akan mengalah untukmu, lagian aku nggak suka sama Ustadz Amar!”

Tinggalkan Balasan