Ustadz di Antara Nisma dan Najwa

“Jangan munafik kamu, Nis. Aku tahu kalau sekarang kamu juga udah jatuh cinta sama Ustadz Amar!”

Niswa tertunduk lemah sambil menangis, kemudian Najwa memeluk Niswa sambil berkata, “Allah telah memilih kamu untuk Ustadz Amar, dan Allah pula yang menentukan takdir kalian berdua. Demi Allah, Nis, aku rela untuk sahabatku sendiri, dan aku akan bahagia jika kamu bahagia,” ucap Najwa yang semakin membuat Niswa terisak dan terharu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Maafkan aku, Naj. Jika aku sebagai sahabat belum bisa membuatmu bahagia,” ucap Niswa meminta maaf.

“Nggak ada yang perlu dimaafkan, Nis. Semuanya sudah selesai. Kamu adalah sahabatku, dan akan selalu begitu sampai kapan pun! Justru aku yang harus minta maaf padamu, karena aku sudah salah paham,” ucap Najwa menjelaskan.

***

Hubungan Niswa dan Najwa kini telah membaik, mereka telah kembali seperti semula. Dan pada suatu hari, Niswa dipanggil untuk menghadap kepada Ibu Nyai. Ada santri yang bilang kalau Niswa akan ditakzir  atau dihukum, padahal Niswa merasa tidak penah melakukan kesalahan atau melanggar peraturan apa pun.

Dengan perasaan yang bercampuraduk, Niswa menghadap kepada Ibu Nyai.

“Assalamu’alaikum, Umi,” sapa Niswa di hadapan Ibu Nyai.

“Wa’alaikumussalam, nduk!” jawab Ibu Nyai ramah namun terlihat cuek.

“Mohon maaf umi, apakah saya melakukan kesalahan sehingga njenengan memanggil saya ke mari?” tanya Niswa sopan.

“Tidak, nduk. Ibu hanya ingin bertanya, ada hubungan apa antara kamu dengan Ustadz Amar?” tanya Ibu Nyai yang membuat hati Niswa tersentak.

“Sebentar, sebelum kamu menjawabnya. Ibu akan menghadirkan seseorang di sini,” Ibu Nyai menahan jawaban Niswa keluar dari mulutnya. “Silakan masuk, nak…,” seru Ibu Nyai.

Dan betapa terkejutnya hati Niswa ketika ia tahu siapa yang masuk ke dalam. Ustadz Amar duduk di samping Niswa dan kini mereka berdua tengah menghadap Ibu Nyai. “Sekarang kamu jawab pertanyaan saya tadi Niswa!” perintah ibu Nyai.

“Kami tidak menjalin hubungan apa-apa, Umi. Hubungan kami tidak lebih dari sekadar ustadz dan muridnya,” Niswa menjelaskan.

“Kamu tidak bohong, kan?”  tanya Ibu Nyai seakan tak percaya akan penjelasan Niswa. “Tidak, Umi,” jawab Niswa sopan dan singkat.

“Lalu kenapa Ustadz Amar ingin melamar kamu, kalau tidak ada hubungan apa-apa?” Niswa langsung terkejut mendengar pertanyaan dari Ibu Nyai tersebut.

“Ustadz Amar tidak pernah bilang kepada saya tentang itu,” jawab Niswa sedikit keheranan.

“Sekarang dia akan bicara tentang itu sama kamu, Niswa. Dengan disaksikan kedua orang tua kalian,” Jawab Ibu Nyai mempersilakan. Tak lama kemudian kedua orang tua Niswa dan Ustadz Amar melangkah memasuki ruangan. Dan kini Ustadz Amar memulai untuk bicara kepada Niswa.

“Niswa, di sini dengan disaksikan kedua orang tua kita dan Ibu Nyai, aku meminta izin untuk meminangmu, menjadikanmu istriku dan ibu dari anak keturunanku nanti. Aku sudah memutuskan hal ini setelah lama hatiku tergoyah karena jatuh cinta kepadamu. Dan aku sudah meminta izin kepada kedua orang tuamu, dan mereka sudah merestui kita. Dan sekarang tinggal menunggu keputusanmu saja!” kata Ustadz Amar.

“Iya, nduk, Ustadz Amar bilang, dari pada dia terus-terusan begini tanpa ada ikatan sama kamu dan akhirnya membuat maksiat lalu menebar fitnah, dia memutuskan untuk mengikatmu dalam hubungan pernikahan. Sekarang bagaimana jawabanmu?” tanya ibunda Niswa kepada putri semata wayangnya.

“Apa pun keputusanmu akan kuterima Nis! Aku ikhlas,” sahut Ustadz Amar.

“Ustadz, dengarkan jawaban saya baik-baik. Dan mereka semua akan menjadi saksinya! Saya menerima pinangan ustadz dan saya mau menjadi istri ustadz Amar.”

Jawaban Niswa seakan melegakan hati semua orang yang hadir di sana.

“Alhamdulillah…,” ucap semua orang di sana.

Ibunda Niswa memeluk erat putrinya.

“Selamat ya, Nak,” ucap ibunda Ustadz Amar selanjutnya dengan bersalaman kepada Niswa yang kini akan menjadi menantunya.

“Kamu sudah dapatkan calon istri impianmu Amar, semoga abadi untuk selamanya.”

“Amiinn,” semuanya mengamini. Termasuk Ibu Nyai turut mendoakan mereka. Niswa bersalaman dengan kedua orang tua Ustadz Amar.

“Subhanallah, Nak. Tak salah kamu pilih Niswa sebagai calon istrimu,” ucap ibu Ustadz Amar yang melihat sopan santun Niswa.

“Terima kasih, Niswa, calon istriku. Semoga cinta kita abadi untuk selamanya,” kata Ustadz Amar kepada Niswa yang tersenyum bahagia sedari tadi.

Tinggalkan Balasan