Ustaz Sukirman

Lelaki itu tersenyum lalu menggeleng. Kemudian ia menjelaskan pekerjaannya mengajukan proposal untuk anak-anak telantar di kampungnya. Sukirman menyipit matanya, ia tak mengerti lalu meminta lelaki itu terus bercerita. Sukirman pun pulang ke rumah dengan sebentuk senyum manis yang disambut istri tercintanya.

“Dapat pekerjaan, Abi?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Insyaallah.”

“Alhamdulillah.”

Sukirman mulai mendata anak-anak di lingkungannya dari mulai yang yatim, piatu dan yatim piatu. Ternyata tidak sedikit. Bahkan ditambah dari kampung sebelah. Dari semua itu, sebagian kecil ada yang dirawat oleh keluarganya yang terbilang mampu seperti oleh kakek neneknya yang kebetulan masih hidup. Namun ia tetap mendatanya. Rumah sebelah, warisan orangtuanya, dibersihkan. Anak-anak yang terdata, sebagian menempatinya. Akhirnya sebuah panti asuhan dadakan terbentuk. Ia mendapat acungan jempol warga.

Setelah semua surat berharga yang bisa jadi rujukan mengajukan permohonan bantuan, Sukirman pun mulai kerap pergi ke kantor kabupaten dan departemen agama. Proposal pertama mendapat tanggapan, dan dana mengalir di nomor rekeningnya. Ia begitu takjub dan seolah tak percaya. Dengan segera, uangnya dibelikan perabot lengkap untuk anak-anak panti. Ia mengajukan proposal lagi. Kali ini pun, berhasil.

“Abi… ada tamu yang mau menitipkan anak-anak yatim dari kampung yang jauh,” ucap istrinya suatu pagi.

“Umi saja yang hadapi, ya? Abi tanggung mau mengetik proposal, siang harus sudah mendapat tandatangan yang dibutuhkan,” jawab Sukirman. Matanya tak lepas dari layar laptop baru yang menyala.

Semakin anak-anak panti bertambah banyak, semakin besar dana bantuan yang didapat. Sukirman benar-benar semangat. Saat dirasa semua kepentingan panti terpenuhi, ia berpikir juga biaya hidup anak-anak tak harus sepenuhnya ditanggung dari dana bantuan. Terkadang ada pihak-pihak di daerahnya yang peduli. Seperti Haji Jamhur, pemilik mebel terlaris, rajin mengirim bantuan beras. Bos Tedy pemilik kolam ikan mas, seminggu sekali memberi banyak ikan. Bu Saodah, grosir sayuran di pasar tradisonal, dengan suka hati berbagi.

“Untuk proposal kali ini, tak boleh gagal,” Sukirman sedikit bergumam. Dengan semangat terus membuat ajuan ke beberapa dinas terkait yang patut diminta bantuan. Bahkan hingga ke luar negeri.
Semenjak proposal demi proposal mendapat tanggapan positif dan menghasilkan untung, semenjak itu pula Sukirman acapkali pergi. Terkadang kembali ke rumah ketika matahari mulai diselimuti gelap.

“Abi, sebaiknya Abi harus bisa membagi waktu. Anak-anak yang mengaji sering menanyakan Abi. Mereka ingin Abi yang mengajari mereka,” ucap istrinya lembut.

“Apa Umi sudah tak mau mengajari mereka lagi?”

“Bukan begitu!”

“Lalu? Dan bukankah ada Ali dan Zaenal?” Sukirman melirik istrinya. Ali dan Zaenal, santri muda yang diperbantukan di panti asuhan.

“Yang harus kita bimbing itu banyak, Abi. Bukan hanya yang mengaji di rumah. Tapi juga anak-anak di panti.”

“Jika kurang pengajar, cari santri lain dari pondok kampung sebelah.”

“Tidak begitu juga. Mencari santri tak sulit. Tapi Abi tetap harus berada di samping mereka.”

“Sesekali Abi kan suka…”

“Sesekalinya Abi sekarang tidak lagi. Abi pulang ke rumah sudah hampir gelap. Dan Abi sudah telanjur kelelahan,” dari sorot mata istrinya tampak kekecewaan. Di satu sisi, ia bangga memiliki suaminya yang selalu dipanggil Pak Ustaz olek khalayak itu, mendirikan panti dan rajin mencari bantuan dana. Namun di sisi lain, ia mulai kehilangan senyum suaminya. Ia pun tak bebas bercengkrama lagi seperti dulu, mengajari anak-anak mengaji bersama-sama. Bahkan, dengan ketiga anaknya sendiri, Sukirman sudah jarang menyapa. Setelah salat Isya, ia langsung tidur, bangun Subuh, salat tanpa zikir, apalagi mengaji. Lalu bergegas pergi tanpa sarapan. Begitu nyaris setiap hari. Jika hari Minggu, Sukirman lebih memfokuskan diri di depan laptop.

“Assalamu’alaikum, saya mau bertemu Pak Ustaz,” terdengar suara perempuan di depan pintu rumahnya. Setelah menjawab salam, istrinya menghampiri Sukirman di kamar dan menjelaskan kedatangan Bu Kades yang ingin bersua.

Tinggalkan Balasan