Ustaz Sukirman

“Bilang saja, Abi lagi sibuk…”

“Umi sudah bilang Abi ada.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ya, tinggal bilang yang tadi kata Abi. Tidak sulit, ko.”

“Abi… luangkanlah waktu. Apalagi itu Bu Kades, Umi malu. Kita juga harusnya malu.”

“Malu?”

“Setiap Abi buat proposal, kan butuh tanda tangan suaminya.”

“Tidak selalu.Toh sekarang ada cara lain membubuhkan tandatangan orang lain. Apalagi tak lama lagi jabatan kades suaminya akan berakhir.”

“Ya Allah, Abiiiii…. Umi tak menyangka dengan sikap Abi sekarang.”

“Tinggalkan Abi sendirian! Abi lagi sibuk, apa kau sebagai istri tak mau menuruti perintah suami?”

Sukirman tak mampu mengendalikan emosinya. Proposal yang tengah diketiknya tidak main-main. Harus segera selesai dan esok harus sampai ke target, sebuah perusahaan asing. Sukirman tak sadar menghentakkan kaki kanannya ke lantai. Istrinya mundur ketakutan.

Kini, semua dana bantuan yang diperuntukkan anak-anak di panti asuhan, masuk di kantung pribadi Sukirman. Ia terlena dan lupa dengan kewajiban. Dalam kepalanya yang terpikir hanya uang.

“Andai aku punya uang sekaligus jabatan, alangkah sempurnanya hidup ini,” gumamnya saat istrinya telah tertidur di sampingnya.

Sukirman mulai mencalonkan diri pada pemilihan kades mendatang. Cari tim sukses dengan bayaran memuaskan. Jabatan itu dengan mudah dilahapnya. Ia berhasil menjadi orang nomor satu di desa. Panti asuhan tetap berjalan dengan donator baru. Warga sangat mengaguminya, tak banyak yang tahu perubahan karakter pada Sukirman saat menjadi ustaz proposal dan kini menjadi kades. Hanya istrinya yang merasakan.

Perempuan itu kerap didera resah. Sukirman hanya menjalankan salat lima waktu tanpa diakhiri zikir apalagi melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Istrinya sangat merindukan masa-masa dulu, saat bersama-sama mengajari mengaji anak-anak di sekitarnya. Berbahagia dengan ketiga anaknya kendati dalam kesederhanaan. Sukirman yang dulu dikenal sosok bersahaja kini berubah menyeramkan baginya. Ambisi berlebihan yang menguasainya.

Marni kerap memohon pada Allah, agar suaminya kembali seperti dulu. Ia ingin Allah mengingatkan suaminya akan kelalaiannya selama ini. Ia pun diliputi penyesalan, sebagai istri, ia pernah menuntut suaminya memiliki pekerjaan. Padahal menjadi guru mengaji saja balasannya selain pahala juga rezeki yang datang tak terduga. Ia sekeluarga tak pernah tak makan dan senantiasa terasa nikmat. Namun sekarang, jarang sekali ada acara makan bersama. Pun, makanan kerap terasa hambar menyentuh lidahnya.

Hingga tetiba, ada sekelompok warga yang didukung pihak-pihak yang terkalahkan di meja pertarungan kades tempo hari, menuntut Sukirman yang telah menyelewengkan dana desa yang ternyata digunakan untuk menikahi perawan cantik dari kecamatan lain.

Kekuasaan Sukirman tumbang. Ia pun limbung. Sebelum akhirnya masuk bui, orang-orang kerap melihatnya membawa map berisi ajuan proposal seperti halnya saat ia masih terkenal dengan gelar ‘Ustaz’. Lelaki itu konon terlihat mondar-mandir tak tentu arah seperti yang kehilangan kendali.

Bandung Barat, 29 Januari 2020.

ilustrasi: lukisan barli sasmitawinata.

Tinggalkan Balasan