Bus Surabaya sudah membuka pintu.
“Neng mau ke mana?”

Cinara terkejut. Ia menoleh. Lelaki tua itu berdiri lebih dekat dari biasanya.
“Surabaya,” jawabnya singkat, sambil mengangkat kaki ke anak tangga pertama.
“Jangan naik ini, neng.”
Nada suara lelaki itu berubah. Tidak keras. Justru rendah dan patah, seperti peringatan yang disampaikan terlalu cepat.
Cinara berhenti. “Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan.
Jantung Cinara berdegup lebih cepat. Matanya menyipit, refleks defensif muncul. Ia terbiasa menghadapi orang asing, tapi ada sesuatu pada tatapan lelaki itu—terlalu serius, terlalu mendesak.
“Pak, saya buru-buru,” katanya.
Lelaki itu tidak menjawab. Ia meraih lengan Cinara. Pegangannya tidak kuat, bahkan gemetar, tapi cukup untuk membuat kulit Cinara merinding.
Cinara ketakutan. Matanya buas, bukan karena marah, tapi karena naluri ingin selamat. Ia menarik lengannya, mundur selangkah.
“Jangan sentuh saya!”
Orang-orang mulai melirik. Lelaki tua itu melepas pegangannya. Wajahnya pucat, tubuhnya sedikit bergetar, seolah ia sendiri sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Cinara tidak mau tahu. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju tempat yang lebih ramai—dekat penjual minuman, dekat tukang ojek, dekat suara manusia yang bisa menjadi perisai. Napasnya pendek-pendek.
Bus belakang sudah tampak di kejauhan. Bus depan mulai jalan.
Tanpa menoleh lagi, Cinara berlari kecil dan naik ke bus berikutnya. Ia duduk di dekat jendela, memeluk ranselnya. Dadanya masih sesak.
Ia menoleh keluar. Lelaki tua itu kembali ke tempatnya, sudah berteriak lagi, suaranya kembali normal, seolah peringatan barusan tak pernah terjadi.
Menang benar, lelaki itu sudah tak peduli padanya.
