Utang Nyawa Cinara

Bus melaju. Jalanan mulai sepi. Cinara mencoba menenangkan diri, meyakinkan dirinya bahwa ia baru saja bereaksi berlebihan. Orang tua aneh di halte bus—itu saja. Tidak lebih.

Setengah kilometer kemudian—

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Braaakk!

Suara benturan itu terdengar seperti langit runtuh. Bus di depan mereka—bus yang hampir ia naiki—diseruduk bus lain dari arah berlawanan. Adu banteng tak terelakkan. Kaca pecah, besi melengking, api menyambar cepat.

Bus Cinara berhenti mendadak. Penumpang berteriak. Sopir memaki.

Cinara menatap pemandangan itu dengan tubuh kaku. Api membesar. Asap hitam membubung. Dalam kepalanya hanya ada satu kalimat yang berputar-putar:

Untung saya tidak naik bus itu.

Ia turun di halte berikutnya, kaki gemetar. Ia butuh udara. Ia butuh duduk. Ia butuh memahami apa yang baru saja luput darinya.

Dan di sana, di halte itu, lelaki tua itu sudah berdiri.

Topi army. Jaket army. Senyum yang tidak muncul.

“Kau berutang satu nyawa padaku,” katanya pelan sambil menepuk pundak Cinara.

Sentuhan itu membuat Cinara hampir melompat. Tatapan lelaki itu tajam, bukan mengancam, tapi menuntut pengakuan.

“Apa maksud Bapak?” suara Cinara bergetar.

Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum renyah—senyum yang sama seperti setiap hari—lalu berbalik dan kembali ke tempatnya.

“Ayo Surabaya berangkat!”

Bus datang dan pergi. Receh kembali berbunyi. Orang-orang kembali tergesa.

Cinara berdiri lama, mencoba merangkai makna. Dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang tak bisa ia ucapkan:

Siapa sebenarnya lelaki ini?

Ia naik bus berikutnya dengan langkah pelan. Di jendela, bayangan halte menjauh. Dan entah kenapa, Cinara merasa ada satu bagian hidupnya yang kini terikat—pada seseorang yang namanya tak ia ketahui, dan pada satu nyawa yang belum ia lunasi.

Cinra berdiri lama. Ia tahu, sejak hari itu, hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Tinggalkan Balasan