Awal tahun 2026 menorehkan tinta hitam dalam sejarah kedaulatan negara modern. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan Amerika Serikat bukan sekadar berita utama tentang jatuhnya seorang pemimpin kontroversial. Bagi kita yang membaca sejarah dengan kacamata iman, peristiwa ini adalah pengulangan sunnatullah—sebuah pola sejarah yang berulang tentang bagaimana ketamakan (greed) dan lemahnya amanah dapat meruntuhkan sebuah bangsa.
Di balik riuh rendah tuduhan “narkoterorisme” dan penegakan demokrasi, terselip aroma pekat minyak bumi yang menjadi magnet konflik. Apa yang terjadi di Caracas hari ini adalah cermin retak yang memantulkan peringatan keras bagi dunia Islam, khususnya bagi negeri-negeri yang dikaruniai kekayaan alam melimpah.

Topeng “Perbaikan” dan Standar Ganda
Dalam politik internasional, seringkali kita melihat manifestasi dari peringatan Al-Qur’an tentang golongan yang mengaku melakukan perbaikan, padahal sejatinya sedang menabur kerusakan (QS. Al-Baqarah: 11). Amerika Serikat hadir dengan narasi sebagai “penyelamat” rakyat Venezuela dari tiran. Namun, sulit bagi nalar kritis kita untuk menepikan fakta bahwa Venezuela memegang cadangan minyak terbesar di dunia.
Sejarah mencatat tinta merah imperialisme yang selalu bersembunyi di balik misi moral. Jika dahulu kolonialisme datang dengan misi Gospel dan Glory, kini ia datang dengan misi “Demokrasi” dan “HAM”, namun Gold (kekayaan alam) tetap menjadi tujuan akhirnya. Bagi dunia Islam, ini adalah peringatan akan bahaya standar ganda; hukum internasional seringkali menjadi pedang yang tajam bagi negara yang membangkang, namun tumpul bagi kekuatan hegemoni.
Resource Curse dan Fitnah Harta
Venezuela adalah contoh nyata dari apa yang disebut ekonom sebagai Resource Curse (Kutukan Sumber Daya), atau dalam bahasa agama sebagai fitnah harta. Kekayaan minyak yang melimpah, alih-alih menyejahterakan, justru menjadi sumber petaka karena salah urus.
Rasulullah SAW pernah bersabda mengingatkan umatnya, “Bukan kemiskinan yang aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi aku takut jika dunia dibentangkan untuk kalian…” (HR. Bukhari).
Ketamakan elite Venezuela yang memonopoli kekayaan, ditambah sanksi eksternal, membuat rakyat kelaparan di atas lumbung emas hitam. Kondisi inilah yang melemahkan imunitas bangsa tersebut. Ketika seorang pemimpin gagal menunaikan amanah untuk menyejahterakan perut rakyatnya, ia telah kehilangan legitimasi moral. Kekecewaan rakyat adalah celah dinding yang paling mudah ditembus oleh musuh.
Bercermin pada Andalusia dan Baghdad
Apa yang menimpa Maduro memiliki resonansi sejarah dengan jatuhnya pusat-pusat peradaban Islam. Ingatan kita melayang pada masa Muluk ath-Thawaif di Andalusia. Kala itu, para pemimpin Muslim sibuk memperkaya diri dan bertikai satu sama lain, melupakan persatuan umat. Akibatnya, mereka menjadi lemah dan mudah didikte oleh kerajaan-kerajaan Kristen dari Utara, bahkan rela membayar upeti demi mempertahankan kekuasaan semu.
Demikian pula saat Baghdad jatuh ke tangan Mongol pada 1258. Kejatuhan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan didahului oleh degradasi kepemimpinan dan pengabaian terhadap pertahanan serta kesejahteraan umat. Musuh dari luar hanya perlu menendang pintu yang engselnya sudah keropos dari dalam.
Keadilan: Benteng Pertahanan Terbaik
Pelajaran terbesar (ibrah) dari tragedi geopolitik ini bagi negeri-negeri Muslim adalah tentang urgensi Keadilan Sosial. Kedaulatan negara tidak cukup dijaga dengan retorika anti-asing atau parade militer semata. Benteng pertahanan terkuat adalah Keadilan (Al-‘Adl).
Sebuah negeri yang pemimpinnya adil dan rakyatnya sejahtera akan memiliki kohesi sosial yang kuat. Rakyat akan menjadi “pagar betis” yang melindungi kedaulatan negaranya. Namun, jika ketamakan merajalela—baik ketamakan penguasa lokal maupun korporasi asing—maka negara tersebut hanyalah menunggu waktu untuk menjadi bancakan kekuatan global.
Sebagai penutup, kasus Venezuela menyadarkan kita bahwa kekayaan alam adalah titipan Allah yang menuntut pertanggungjawaban berat. Tanpa integritas, kekayaan itu hanyalah undangan bagi penjajah baru. Semoga kita mampu mengambil pelajaran sebelum giliran itu datang mengetuk pintu kita.
