Wabah dan Tradisi Burdah

Bukan kali pertama masyarakat manusia mengalami wabah seperti pandemi Covid-19 yang sudah berjalan selama dua tahun ini. Dan, dalam rekaman sejarah, masyarakat dunia merespons terjadi wabah dengan cara berbeda-beda.

Dalam masyarakat Muslim, ada tradisi pembacaan Burdah setiap kali terjadi wabah. Tujuannya adalah untuk mengusir wabah dan manusia terselamatkan dari bahayanya. Di sini, Burdah adalah penolak bala.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Burdah sendiri merupakan cerminan perjalanan hidup Imam Al-Bushiri, nama yang dinisbatkan pada tempat kelahirannya, Bushir. Ayah Al-Bushiri berasal dari Dalash. Karena itu, ia kadang disebut Al-Bushiri, Al-Dalashi, atau Al-Dhalasiri yang merupakan gabungan keduanya (Ulin Nihayah, Jurnal Komunikasi Islam, Vol 7. Hal: 32).

Burdah merupakan karya paling fenomenal dari Imam Al-Bushiri ini. Di dalamnya berisi syair puji-pujian. Di dalam Burdah terdapat mutiara-mutiara pelajaran tentang sikap hormat kepada makhluk pilihan, yakni Nabi Agung Muhammad SAW.

Sebenarnya, kalau kita meneliti susunan  bait-bait dalam kasidah Burdah, maka kita akan mendapatkan sepuluh tema pokok: pertama, 12 bait Prolog merupakan goresan asmara cinta kepada sang panutan kita. Kedua, 16 bait peringatan akan bahaya menuruti hawa nafsu. Ketiga,  30 bait puji-pujian. Keempat, 13 bait kisah kelahiran. Kelima, 16 bait informasi tentang mukjizat. Keenam, 17 bait pembicaraan tentang Al-Quran. Ketujuh, 13 bait tentang isra mi’raj. Kedelapan, 12 bait tentang jihad. Kesembilan dan kesepuluh merupakan bait penutup. (Majmuatu Maulidiyah-Qasidah Burdah, hal: 156-176).

Tinggalkan Balasan